Minggu, 25 November 2012

Tablet Sublingual dan Bukal


      Definisi
Tablet sublingual adalah tablet yang digunakan dengan cara diletakkan di bawah lidah sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut, diberikan secara oral, atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat. Tablet bukal adalah tablet yang digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut (Syamsuni, 2006).
Kedua tablet ini umumnya berbentuk kecil, pipih, dan oval yang dimaksudkan untuk pemberian pada daerah bukal atau bawah lidah yang melarut atau tererosi perlahan, oleh karena itu, diformulasi dan dikopresi dengan tekanan yang cukup untuk menghasilkan tablet yang keras (Rudnic and Schwartz, 1990). Setelah obat dilepaskan dari tablet, bahan aktif diabsorpsi tanpa melewati saluran gastrointestinal. Ini rute yang menguntungkan untuk obat yang bisa dihancurkan oleh saluran gastrointestinal (Parrot, 1980).
Kedua jenis tablet ini dimaksudkan untuk diserap langsung oleh selaput lendir mulut. Obat-obatan yang diberikan dengan cara ini dimaksudkan agar memberikan efek sistemik, dan karena itu harus dapat diserap dengan baik oleh selaput lendir mulut. Tablet bukal dan sublingual hendaklah diracik dengan bahan pengisi yang lunak, yang tidak merangsang keluarnya air liur. Ini mengurangi bagian obat yang tertelan dan lolos dari penyeraapan oleh selaput lendir mulut. Di samping itu, kedua tablet ini hendaklah dirancang untuk tidak pecah, tetapi larut secara lambat, biasanya dalam jangka waktu 15-30 menit, agar penyerapan berlangsung dengan baik (Lachman dkk, 2008).
Keuntungan tablet sublingual dan bukal adalah :
1.      Cocok untuk jenis obat yang dapat dirusak oleh cairan lambung atau sedikit sekali diserap oleh saluran pencernaan.
2.      Bebas First Pass Metabolism.
3.   Proses absorpsinya cepat karena langsung diabsorpsi melalui mukosa mulut, sehingga diharapkan dapat memberikan efek yang cepat juga.
Adapun kerugian tablet sublingual dan bukal adalah :
1.   Hanya sebagian obat yang dapat dibuat menjadi tablet sublingual dan bukal karena obat yang dapat diabsorpsi melalui mukosa mulut jumlahnya sangat sedikit.
2.   Untuk obat yang mengandung nistrogliserin pengemasan dan penyimpanan obat memerlukan cara khusus karena bahan ini mudah menguap.    
     Contoh Tablet Sublingual dan Bukal
Tablet bukal dan sublingual pemberiannya hanya terbatas pada gliseril trinitrat, nitrogliseril dan hormon - hormon steroid.
1.      Nitrogliserin
Sediaan nitrogliserin sublingual dan bukal dapat mengurangi serangan anginal pada penderita iskemia jantung. Pemberian 0,3 – 0,4 mg melepaskan rasa sakit sekitar 75% dalam 3 menit, 15% lainnya lepas dari sakit dalam waktu 5 – 15 menit. Apabila rasa sakit bertahan melebihi 20 – 30 menit setelah penggunaan dua atau tiga tablet nitrogliserin berarti terjadi gejala koroner akut dan pasien diminta untuk mencari bantuan darurat (Sukandar, dkk, 2008).
Efek samping mencakup hipotensi postural yang berhubungan dengan gejala sistem saraf pusat, refleks takikardi, sakit kepala, dan wajah memerah, dan mual pada waktu tertentu (Sukandar, dkk, 2008).
2.      Hormon – Hormon Steroid
a.       Estrogen
Estrogen yang diberikan oral menstimulasi sintesis protein hepatik dan meningkatkan konsentrasi sirkulasi glogulin terikat hormn seks, yang dapat menjamin bioavailabilitas androgen dan astrogen. Estradiol merupakan bentuk kuat dan paling aktif dari estrogen endogen saata diberikan oral dia termetabolisme dan hanya 10% mencapai sirkulasi sebagai estradiol bebas. Absorbsi estrogen secara sistemik ppada tablet lebih rendah dibanding krim vaginal. Penemuan baru menunjukkan estrogen pada dosis yang lebih rendah efektif dalam mengontrol simptom pasca menopause dan mengurangi kehilangan masa tulang (Sukandar, dkk, 2008). 
Contoh obat yang beredar di pasaran adalah angeliq, cliane, climmen, cyclo progynova, diane, dan lain-lain (Anonim, 2010).
b.      Progestogen
Progestogen umumnya diberikan pada wanita yang belum pernah menjalani histerektomi. Progestin sebaiknya ditambahkan karena estrogen tunggal berkaitan dengan hiperplasia dan kanker endometrium. Terapi hormon dosis rendah(estrogen terkonjugaasi ekuin 0,45 mg dan medroksiprogesteron asetat 1,5 mg/hari menunjukkan kesamaan dalam peredaran simptom dan pertahanan densitas tulang tanpa peningkatan hiperplasia endometrium.
Progestogen oral yang paling umum digunakan adalah medroksiprogesteron asetat misalnya Dilena; Noretisteron asetat, misalnya Anore, Cliane, Kliogest, Norelut, Primolut N, dan Regumen.
      Formulasi Tablet Bukal
Tablet bukal mengandung sejumlah bahan aktif yang dikombinasikan dengan bahan tambahan. Tablet ini memberikan “drug delivery” yang sangat cepat, dimana level bahan aktif dalam darah dapat dibandingkan dengan pemberian secara parenteral. Contoh Formulasi:
      Tablet Bukal Prokloperazin maleat (5 mg)
      Bobot tablet : 60 mg
·      Untuk satu kali produksi akan dibuat 500 tablet
·      Bobot Total : 500 x 60 mg = 30000 mg = 30 gr
Prokloperazin maleat          : 5 mg x 500 = 2500 mg
Gom kacang-lokus              : 1,5 mg x 500 = 750 mg
Gom xantan                        : 1,5 mg x 500 = 750 mg
Povidon                              : 3 mg  x 500 = 1500 mg
Serbuk sukrosa                   : 47,5 mg x 500 = 23750 mg
Magnesium stearat              : 1 mg x 500 = 500 mg
Talk                                     : 0,5 mg x 500 = 250 mg
Air                                      : secukupnya
TOTAL                               : 30000 mg = 30 gr

    Cara Pembuatan
Tablet Bukal Prokloperazin maleat (5 mg) dengan formulasi seperti di atas dibuat dengan metode granulasi basah.
Evaluasi Tablet
Dalam membuat tablet sublingual dan bukal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.      Sifat dan Kualitas
Ciri – ciri fisik tablet sublingual dan bukal adalah datar atau oval, dan keras. Bentuk tersebut ditentukan oleh punch dan die yang digunakan untuk mengkompresi (menekan) tablet. Untuk menghasilkan tablet yang datar, maka punch-nya jangan terlalu cembung.
 Adapun ketebalan tablet dipengaruhi oleh jumlah obat yang dapat diisikan ke dalam cetakan dan tekanan yang diberikan pada saat dilakukan kompresi (Ansel, 1989).
2.      Berat Tablet
Berat tablet ditentukan oleh jumlah bahan yang diisikan ke dalam cetakan yang akan ditekan. Volume bahan (granul) harus disesuaikan dengan beberapa tablet yang telah lebih dulu dicetak supaya tercapai berat tablet yang diharapkan. Penyesuaian diperlukan, karena formula tablet tergantung pada berat tablet yang akan dibuat.
Sebagai contoh, jika tablet harus mengandung 10 mg bahan obat dan bila yang akan diproduksi 10.000 tablet, maka diperlukan 100 gr dari obat tersebut dalam formula. Setelah penambahan bahan tambahan, formulanya mungkin meningkat menjadi 1000 gr. Ini berarti tiap tablet beratnya menjadi 100 mg dengan bahan obat yang terkandung 10 mg. Jadi, obat yang diisi ke dalam cetakan harus disesuaikan supaya dapat menampung volume granul yang beratnya 100 mg (Ansel, 1989).
3.      Kekerasan Tablet
Tablet bukal sengaja dibuat keras. Hal ini dimaksudkan agar obat yang disisipkan di pipi larut perlahan – lahan. Dalam proses kompresi, besarnya tekanan yang biasa digunakan adalah lebih kecil dari 3000 dan lebih besar dari 40.000 pound. Jadi, untuk membuat tablet bukal yang keras tekanan yang dibutuhkan juga besar. Pada saat ini banyak alat yang bisa digunakan sebagai tester pengukur kekerasan tablet, diantaranya Pfizer tablet hardness tester, HT500 Hardness Tester, dan Friabilator.
4.      Daya Hancur Tablet
Semua tablet dalam USP harus melalui pengujian daya hancur secara resmi yang dilaksanakan in vitro dengan alat uji khusus. Alat ini terdiri dari rak keranjang yang dipasang berisi 6 pipa gelas yang ujungnya terbuka, diikat secara vertikal di atas latarbelakang dari kawat stainless yang berupa ayakan dengan ukuran mesh nomor 10. Selama waktu pengujian, tablet diletakkan pada pipa terbuka dalam keranjang tadi, dengan memakai mesin, keranjang diturun-naikkan dalam cairan pencelup dengan frekuensi 29 – 32 kali turun – naik per menit. Layar kawat dipertahankan selalu berada di bawah permukaan cairan. Untuk tablet bukal dan sublingual, meggunakan air (cairan pencelup) yang dijaga pada temperatur 37oC, kecuali bila ditentukan ada cairan lain dalam masing – masing monogramnya. Tablet bukal harus melebur dalam waktu 4 jam dan tablet sublingual biasanya 30 menit (Ansel, 1989). 
      Pengemasan dan Penyimpanan 
                  Pada umumnya tablet sangat baik disimpan dalam wadah yang tertutup rapat di tempat dengan kelembaban nisbi yang rendah, serta terlindung dari temperatur tinggi. Tablet khusus yang cenderung hancur bila kena lembab dapat disertai pengering dalam kemasannya. Tablet yang dirusak oleh cahaya disimpan dalam wadah yang dapat menahan masuknya cahaya (Ansel, 1989).
Untuk tablet sublingual yang mengandung nitrogliserin (Tablet Nitrogliserin) memiliki peraturan tersendiri dalam pengemasannya, yaitu :
a.    Semua tablet nitrogliserin harus dikemas dalam wadah gelas dengan tutup logam yang sesuai dan dapat diputar.
b.    Tiap wadah tidak boleh berisi lebih dari 100 tablet.
c.    Tablet nitrogliserin harus disalurkan dalam wadah aslinya dan pada labelnya ada tanda peringatan “untuk mencegah hilangnya potensi, jagalah tablet ini dalam wadah aslinya dan segera tutup kembali wadahnya setelah pemakaian”.
d.   Semua tablet nitrogliserin harus disimpan dalam ruangan dengan temperatur yang diatur antara 59o - 86 oF (Ansel, 1989).
Pelaksanaan peraturan ini membantu memelihara keseragaman standar kandungan tablet nitrogliserin supaya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimanapun juga, nitrogliserin merupakan cairan yang mudah menguap dari wadahnya bila terbuka dan khususnya apabila wadah tadi tidak tertutup rapat (Ansel, 1989).