Rabu, 12 Maret 2014

Daun dan Buah Pare sebagai Anti DM


A.    Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus atau biasanya disingkat DM atau diabet, merupakan penyakit yang ditandai dengan keadaan hiperglikemik kronik, dimana kadar gula darah lebih tinggi dari normal. Kadar gula darah biasanya diukur dalam keadaan puasa (8-10 jam  tidak makan/minum manis, hanya dibenarkan minum air putih saja) yaitu sekitar 70 - 120 mg/dl. Dalam urin penderita DM, kadar gulanya juga lebih tinggi dari normal, maka istilah populer dalam masyarakat adalah penyakit “kencing manis” (Badan POM, 2004).
Diabetes  meluas  kepada  suatu  kumpulan  aspek  gejala yang  timbul  pada  seseorang  yang  disebabkan oleh  karena  adanya  peningkatan  kadar  glukosa  darah  akibat  kekurangan  insulin  baik  yang sifatnya absolut maupun relatif. Insulin  adalah  hormon  yang  diproduksi sel  beta  di  pankreas,  sebuah  kelenjar  yang  terletak  di  belakang  lambung  yang  berfungsi  mengatur  metabolisme  glukosa  menjadi  energi, serta  mengubah  kelebihan  glukosa  menjadi glikogen  yang disimpan  di  dalam  hati dan  otot (Mulyanti dkk, 2010).
Mekanisme timbulnya diabetes mellitus adalah sebagai berikut: Pada kondisi normal, glukosa dalam tubuh yang berasal dari makanan, diserap ke dalam aliran darah dan bergerak ke sel-sel di dalam tubuh. Glukosa tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pengubahan glukosa dalam darah menjadi energi dilakukan oleh hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Secara normal, glukosa akan masuk ke sel-sel dan kelebihannya dibersihkan dari darah dalam waktu 2 jam. Namun apabila insulin yang tersedia jumlahnya terbatas dan atau tidak bekerja dengan normal, maka sel-sel di dalam tubuh tidak terbuka dan glukosa akan terkumpul dalam darah.
Ada 2 macam tipe DM yaitu tipe I dan tipe II. DM tipe I disebut juga Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), dimana penderita mengalami gangguan pada produksi hormon insulin oleh suatu bagian dari limpa. Akibat dari kurangnya hormon insulin yang beredar dalam darah adalah: 1) Gula darah tidak masuk ke dalam sel sehingga sel kekurangan zat gula. Zat guladibutuhkan untuk dipecah menjadi energi/tenaga. Akibatnya penderita merasa lemas karena tenaga yang harus dihasilkannya kurang dari yang dibutuhkan. 2) Kadar gula darah tinggi karena gula darah tidak masuk/terserap ke dalam sel. 3) Waktu darah melalui ginjal, sebagian gula darah akan “bocor” ke air kencing/urin sehingga kadar gula dalam air kencing tinggi. PenderitaDM tipe I ini “harus” di bawah pengawasan dokter dan menggunakan insulin (disuntikkan) untuk membantu tubuh mengatur zat gula.
Diabetes tipe II disebut juga NonInsulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM), dimana penderita tidak kekurangan insulin, tetapi ada resistensi dari sel otot maupun sel jaringan lemak untuk dimasuki gula darah. Dengan demikian kadar gula darah juga cukup tinggi, akibat dari : 1) Gula darah yang masuk ke dalam sel kurang dari yang seharusnya sehingga sel kekurangan zat gula yang merupakan sumber energi utama. 2) Kadar gula darah tinggi karena gula darah kurang terserap ke dalam sel. 3) Kadar gula dalam urin lebih tinggi dari normal karena sebagian zat gula “bocor” ke dalam urin. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tipe I sekitar 10-20 %, sedangkan tipe II sekitar 80-90 % dari seluruh penderita diabetes.

B.     Klasifikasi Tanaman

Berikut klasifikasi tanaman Pare:
Kingdom        :  Plantae
Subkingdom   :  Tracheobionta
Superdivisi     :  Spermatophyta
Divisi              :  Magnoliophyta
Kelas              :  Magnoliopsida
Subkelas         :  Dilleniidae
Ordo               :  Violales
Family            :  Cucurbitaceae
Genus             :  Momordica
Species           :  Momordica charantia L.
Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Pare atau Paria. Di luar negeri disebut Bitter gourd (Inggris), muop dang atau kho qua (Vietnam), Peria (Malaysia), ampalaya, amargoso, paria, palia (Filipina), mara, phakha, maha (Thailand), ku gua atau foo gwa (Cina) (www.plantamor.com).
Pare juga memiliki banyak nama lokal, di daerah Jawa disebut sebagai paria, pare, pare pahit, pepareh. Di Sumatera, pare dikenal dengan nama prieu, fori, pepare, kambeh, paria. Orang Nusa Tenggara menyebutnya paya, truwuk, paitap, paliak, pariak, pania, dan pepule, sedangkan di Sulawesi, orang menyebutnya dengan poya, pudu, pentu, paria belenggede, serta palia.

C.    Deskripsi Tanaman

 Gambar Pare
Pare adalah sejenis tumbuhan merambat dengan buah yang panjang dan runcing pada ujungnya serta permukaan bergerigi. Pare tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan, dibudidayakan, atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar. (Sudarsono dkk, 2002), Tanaman ini tumbuh merambat atau memanjat dengan sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak.
Daunnya tunggal, bertangkai dan letaknya berseling, berbentuk bulat panjang, dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4 cm, menjari 5-7, pangkalnya berbentuk jantung, serta warnanya hijau tua. Bunga merupakan bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, mahkotanya berwarna kuning. Buahnya bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8-30 cm, rasanya pahit, warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan tiga daun buah.

D.    Penggunaan Tradisional

Dalam ramuan tradisional, buah pare ditumbuk hingga menghasilkan cairan pahit atau merebus daun serta buahnya sehingga menghasilkan air yang dapat diminum secara langsung. Buah pare dapat disajikan sebagai teh karena terbukti tidak memiliki efek samping terhadap sistem pencernaan sehingga tepat dikonsumsi oleh penderita yang mengalami konstipasi.

E.     Kandungan Kimia

Daun pare mengandung momordisin, momordin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vitamin A, dan C serta minyak lemak yang terdiri dari asam oleat, asam linoleat, asam stearat dan L.oleostearat. Buahnya mengandung karantin, hydroxytryptamine, vitamin A, B dan C. Per 100 gr bagian buah yang dapat dimakan mengandung 29 kal kalori; 1,1 gr protein; 0,3 gr lemak; 6,6 gr karbohidrat; 45 mg kalsium; 64 mg fosfor; 1,4 mg besi. Biji mengandung momordisin (Badan  POM, 2004).
Kandungan dalam buah pare yang berguna dalam penurunan gula darah adalah karantin, momordisin dan polypeptide-P insulin (polipeptida yang mirip insulin) yang memiliki komponen yang menyerupai sulfonylurea (obat antidiabetes paling tua dan banyak dipakai) (Pratama, 2011).

F.     Data Ilmiah

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat kemampuan daun dan bunga pare sebagai Antidiabetes Melitus tipe. Penelitian tersebut ada yang berupa uji praklinis sampai dengan uji klinis fase III. Hasil penelitian berupa data ilmiah yang bisa dijadikan sebagai rujukan dan penguat kebiasaan masyarakat dalam penggunaan pare untuk menurunkan kadar gula darah.
Penelitian I : Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian decocta buah pare terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus wistar yang diberi bebanglukosa. Metodenya menggunakan hewan coba tikus wistar jantan berumur 3-4 bulan dengan berat 200-250 gram sebanyak 30 ekor. Tikus dibagi dalam 5 kelompok perlakuan secara random dan lima belas menit kemudian diberi glukosa dengan dosis 1,35 gram/200grBB kepada semua kelompok, setelah pemberian glukosa segera diambilkan cuplikan darah. Kemudian cuplikan darah diambil pada menit ke 0, 30, 60,90 dan 120. Kadar glukosa tikus diukur dengan menggunakan glukometer One Touch® Ultra TM.
Buah pare yang digunakan dibuat dalam sediaan dekok/decocta dimana buah pare segar dicuci dengan air mengalir, dibersihkan dari kulit dan, kemudian dagingnya ditimbang sesuai dengan berat yang dikehendaki, lalu dihaluskan dengan cara diblender, kemudian dimasukkan ke dalam panci infusa, dan ditambah air 100 ml. Panci dipanaskan di dalam tangas air selama lebih dari 30 menit, dihitung mulai suhu di dalam panci mencapai 90oC, sambil sesekali diaduk. Penyaringan dilakukan selagi panas melalui kain flannel, setelah air disaring ditambahkan air hingga 100 ml.
Dosis patokan yang dipakai adalah dosis buah pare sebagai obat penurun darah secara tradisional pada orang Indonesia yang dikonvesikan pada tikus berdasarkan konversi LAURENCE & BACHARACH = 70/50 x 0,018 x 200gr = 5 gr/200grBB. Kemudian diturunkan dan dinaikan sesuai deret ukur menjadi 5,04/2 = 2,5 gr/200 grBB dan 5,04 x 2 = 10 gr/200gr. Dengan menggunakan air sebagai pelarut dan asumsi massa jenis = 1 maka dosis menjadi 2,5 ml /200grBB , 5 ml /200grBB, 10 ml /200grBB.
Decocta buah pare dengan dosis 2,5 ml/200grBB, 5ml/200grBB, dan 10 ml/200grBB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus wistar yang diberi beban glukosa. Dengan kenaikan dosis decocta buah pare juga meningkatkan efek penurunan kadar glukosa darah dan durasi kerja decocta, namun juga menyebabkan onset menjadi lebih lambat. Efek anti diabetik decocta buah pare masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan obat standard Glibenklamid 0,126 gram /200grBB.
Penelitian II : Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian ekstrak daun pare terhadap penurunan kadar insulin pada tikus putih Strain Wistar model diabetes melitus tipe 2 dengan hiperinsulinemia pemberian diet tinggi lemak dan STZ . Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Dengan rancangan eksperimen sederhana (post test control group design) dimana subjek (tikus) sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 secara acak. 5 kelompok perlakuan dengan tiap kelompok terdiri dari 5 tikus, yaitu: kelompok tikus normal, kelompok tikus yang diberi diet tinggi lemak, diinduksi streptozotocin 30 mg/kgBB dan tanpa diberi ekstrak daun pare, kelompok tikus yang diberi diet tinggi lemak selama 5 minggu, diinduksi streptozotocin 30 mg/kgBB dan diberi ekstrak daun pare 42 mg/100g BB selama 2 minggu, kelompok tikus yang diberi diet tinggi lemak selama 5 minggu, diinduksi streptozotocin 30 mg/kgBB dan diberi ekstrak daun pare 75 mg/100g BB selama 2 minggu, dan kelompok tikus yang diberi diet tinggi lemak selama 5 minggu, diinduksi streptozotocin 30 mg/kgBB dan diberi ekstrak daun pare 133 mg/100g BB selama 2 minggu. Sedangkan daun pare dibuat dalam ekstrak etanol pare.
Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun pare terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Pemberian dosis 42 mg/100 grBB dapat menurunkan kadar Insulin serum secara bermakna pada tikus model DM tipe 2. Penurunan kadar insulin terjadi diduga karena adanya perbaikan resistensi insulin.
Penelitian III : Penelitian yang dilakukan di Universitas Negeri Semarang (UNS) telah sampai pada Uji Klinis fase III. Tujuan penelitian tersebut yaitu untuk melakukan  uji  klinis  yang  diperlukan  dalam  mengembangkan tanaman lokal (angsana, pare, buncis dan sambiloto) sebagai fitofarmaka untuk membantu   menurunkan kadar glukosa darah pada penderita DM tipe II.  Selain itu  juga bertujuan mengembangkan  tanaman lokal tersebut sebagai  fitofarmaka yang juga berpotensi  sebagai  techno  industrial  cluster.  Artinya  keberhasilan  pengembangan fitofarmaka  dari  tanaman  lokal  ini  dapat  memberdayakan  masyarakat  khususnya petani  sebagai  penyedia  bahan  baku,  industri  nasional  sebagai  produsen,  dan perguruan tinggi sebagai pendukung penelitian pengembangan .
Metode yang digunakan dalam Uji Klinis  fase III  dengan desain  cross over doubled blind RCT design. Subjek penelitian yang diperoleh sejumlah 41  orang pasien RSI Sultan Agung. Sebelum diberi perlakuan, subjek penelitian diberikan instruksi intervensi pra treatment. Setelah itu, perlakuan  diberikan:  Kelompok  1  akan  menerima  obat  glibenklamid  (dosis  5 mg)  sekali  sehari  saat  makan  pagi.  Kelompok 2 akan  menerima  ekstrak  (dosis terapeutik=22mg/kgBB)  sekali sehari saat makan pagi. Pengukuran gula darah puasa dan gula darah 2 jam PP pada hari ke  0 dan hari ke  7. Pengukuran kadar SGPT,  kadar micro albumin  urin  pada  hari  ke  0  dan  7. Pemeriksaan  BMI,  Tekanan  darah,  dan  keluhan gastrointestinal,  keluhan subjektif lain  pada hari ke 0 dan ke 7. Kemudian sesuai dengan desain  Cross-over  maka  perlakuan  dibalik,  wash  out  dilakukan  dalam 7 hari  dengan instruksi intervensi pra treatment sama sebagai mana dijelaskan dalam treatment minggu I. Kelompok  1  akan  menerima  ekstrak.  Kelompok 2 akan  menerima  obat  glibenclamid. Pengukuran  gula  darah  puasa  dan  gula  darah  2  jam  PP  pada  hari  ke  0  dan  hari  ke  7. Pengukuran  kadar  SGPT,  kadar  micro  albumin  urin  pada  hari  ke 0 dan 7. Pemeriksaan BMI,  Tekanan  darah,  dan  keluhan  gastrointestinal,  keluhan  subjektif  lain  pada  hari  ke  0 dan ke 7.
Dari penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak  dosis  22mg/kgBB  terbukti  aman dan  efektif  dalam  menurunkan  kadar  glukosa  darah  terutama  GD2JPP (Gula darah 2 Jam Post Prandial). Sehingga diharapkan dapat dilaksanakan uji klinis fase III multicenter dengan tujuan akhir dapat dijadikan  sebagai  fitofarmaka.

G.    Farmakologi

Ada beberapa mekanisme kerja pare sebagai antidiabetes mellitus, hal ini berkaitan dengan kandungan kimia di dalamnya, yaitu: 
1.   Penelitian yang dilakukan oleh William D.Torres pada tahun 2004 baik secara in vitro maupun in vivo menunjukkan bahwa pare menurunkan gula darah pada hewan percobaan dengan cara mencegah usus menyerap gula yang dimakan. Serat dan saponin dalam buah pare memperlambat pencernaan karbohidrat dan mencegah lonjakan gula darah setelah makan dengan cara  mempresipitasikan protein selaput lendir usus dan membentuk suatu lapisan yang melindungi usus, sehingga menghambat asupan glukosa dan laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi.
2. Menurut Badan POM (2004) buah pare mempercepat keluarnya glukosa melalui peningkatan metabolisme glukosa atau memasukannya ke dalam deposit lemak. Ini merupakan aktivitas dari karantin yang menstimulasi sel beta kelenjar pankreas tubuh untuk memproduksi insulin lebih banyak, Efek pare dalam menurunkan gula darah pada tikus diperkirakan juga serupa dengan mekanisme insulin (Pratama, 2011).
3. Momordicin dalam pare terbukti meningkatkan sensitivitas insulin dengan mempengaruhi aktivitas postreseptornya, yaitu pada fosforilasi tyrosin IRS-1. Asupan diet tinggi lemak pada tikus terbukti dapat menurunkan fosforilasi tyrosin IRS-1 yang distimulasi insulin. Sedangkan pada suplementasi pare pada tikus dengan diet tinggi lemak didapatkan peningkatan fosforilasi tyrosine IRS-1 dan sensitivitas insulin. Perbaikan dari fosforilasi tyrosine IRS-1 ini sangat penting karena pada beberapa penelitian menunjukkan penurunan fosforilasi tyrosin IRS-1 oleh stimulasi insulin sebagai mekanisme molekuler yang berpotensi dalam menyebabkan resistensi insulin. Peningkatan fosforilasi tyrosin IRS-1 yang distimulasi oleh insulin karena suplementasi daun pare akan menyebabkan perbaikan kondisi resistensi insulin yang terjadi pada tikus. Hal ini akan menyebabkan terjadinya transpor glukosa pada sel otot dan adiposa, sehingga kadar glukosa pada darah dapat kembali turun mendekati normal. Penurunan kadar glukosa ini akan menekan mekanisme kompensasi tubuh untuk memproduksi insulin dalam jumlah yang tinggi sehingga hal tersebut akan menghalangi terjadinya kondisi hiperinsulinemia dan kadar insulin akan kembali normal.


DAFTAR PUSTAKA
Azam, M., Sri, R.R., Fitri, I. 2008. Pengembangan Techno-Industrial   Cluster Tanaman Lokal (Angsana, Pare, Buncis Dan Sambiloto) sebagai Fitofarmaka untuk Membantu Menurunkan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita DM Tipe II. Artikel Penelitian. Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Badan POM. 2004. Mengenal Beberapa Tanaman yang digunakan Masyarakat sebagai Antidiabetik untuk Membantu Menurunkan Kadar Gula dalam Darah. InfoPOM. Vol. 5, No. 3. Jakarta.
 Jaya, D.Y., Prasetyo, A., Sudiarto. 2010. Efek Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Kadar HDL Tikus Rattus Norvegicus Strain Wistar Model DM Tipe 2 dengan High Fat Diet dan Streptozotocin. FKUB.  
 Mulyanti, S., Iqbal, M., Sitti, A. 2010. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Metabolit Sekunder dari Fraksi Aktif Antidiabetes Daging Buah Paria  (Momordica charantia Linn.). Jurnal Sains dan Teknologi Kimia. Vol. 1, No.1, Hal:191-199.
 Pratama, F.T. 2011. Pengaruh Pemberian Decocta Buah Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar yang Diberi Beban Glukosa. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
 Rosales, M.D. dan Fernando, R. 2001. An inquiry into the Hypoglycemic Action of Momordica Charantia among type-2 diabetic patients. Philippine Journal of Internal Medicine . 39: 214
Sudarsono, D., Gunawan, S., Wahyono, I.A., Donatus, dan Purnomo. 2002. Tumbuhan Obat II. Pusat Studi Obat Tradisional UGM. Yogyakarta.