Selasa, 01 November 2016

Cerita Artomoro part 2

Masih ingat tulisanku tentang "Cerita Artomoro"? Kali ini ada sedikit sambungannya, hehehe. Yups, check it out

Selepas menghabiskan semangkok jumbo Ramen Karnivora di Shinju Ramen, aku bergegas pulang menuju kosan. Kondisi perut yang alhamdulillah kenyang mampus, membuatku tak begitu memperhatikan jalanan sekitar, termasuk warung Artomoro, tempat Bapak dan Ibu biasa berjualan. Lantaran tak pekanya, aku sampai tak menyadari kalau Artomoro tutup. Aku baru menyadarinya ketika mendekati kosan dan melihat sosok yang tak asing berjalan mendekat.

Loh itu bukannya Bapak? batinku. Ah, bukan. Pria itu merokok, elakku. Ku percepat langkahku, berhadarap bisa bertemu dengan pria yang ku anggap adalah Bapak di pertigaan depan. Pria itu menyadari keberadaanku, begitupun aku, spontan aku berkata "Eh, Bapak". "Iya" balas beliau, tentu dengan senyum khasnya. Satu fakta yang aku ketahui ternyata Bapak merokok juga. Ku kira di balik badan tambun pekerja keras itu tak ada embel-embel nikotin. Ya sudahlah, hidup adalah pilihan. Mungkin Bapak punya jawabannya sendiri.

"Bapak ga jualan ya?"
"Ga nih", jawab Bapak.
"Loh kenapa Pak?' Aku begitu terkejut mengingat seberapa banyak fans masakan Bapak dan Ibu yang akan kecewa ketika mendatangi Artomoro dan mendapati warung itu tutup. Aku pernah cerita kan kalau datang ke sana bisa ngantri sampai sejam-an? Itu saking ramenya.

Awalnya Bapak hanya terdiam. Pertanyaan tadi ku sambung lagi "Mau liburan dulu ya Pak?" Tebakku, tapi ini bukan tebak-tebak berhadiah hehe. Tak dinyana Bapak mengiyakan. Beliau berkata mau libur dulu seminggu karena anak pertama beliau (yg anak STAN-bisa baca di tulisan saya sebelumnya) akan menikah dalam waktu dekat ini.

"Nikahnya di Jakarta neng, di Mesjid Al-Azhar. Umurnya 26, udah seharusnya nikah". Mendengar itu aku tambah takjub. Dizaman banyak lelaki yang menunda-nunda pernikahan karena belum:
1. Sukses
2. Belum punya rumah
3. Belum punya kendaraan
4. Belum punya a, b, c, d, e, dst.
5. Belum bisa bahagiakan ortu
tersirat dari perkataan Bapak kalau meskipun anakku belum punya kelima poin itu ya ga apa-apa, kalau sudah waktunya nikah ya silahkan. Ini pendapat pribadiku loh, silahkan perkataan Bapak kalian tafsirkan sendiri. Yang jelas, kalau takaran membahagiakan ortu adalah ortu hanya ongkang-angking kaki sementara duit mengalir, ga perlu kerja, menikmati masa tua dengan liburan keliling dunia, hal itu belum ku lihat pada Bapak dan Ibu. Sampai bulan Oktober kemarin, masih terlihat Bapak dan Ibu yang berjualan hingga tengah malam.

"Wah selamat ya Pak" ucapku tulus. Entah kenapa aku merasakan kebahagiaan lewat senyuman Bapak. "Sama-sama neng". "Iya Pak semoga lancar yaaa". "Iya neng Amin". Kami tutup obrolan singkat malam itu tanpa sepatah kata lagi hingga akhirnya akupun sampai di depan kosan. 

   


Minggu, 16 Oktober 2016

Kecanduan Drakor

Hai.. Hai everyone, pembaca setia blog ini (kayak ada aja kkkk~)
Ini adalah tulisan pertama gue di bulan Oktober 2016. Dan melihat history terakhir adalah bulan Agustus, it means gue ga nulis anything di bulan September (So sad, begitu ga produktifnya gue). 

Bicara tentang ketidakproduktifan, bukan hanya di blog, di dunia akademikpun diriku begitu. Menulis saat ini terasa seperti hal yang menjemukan, bahkan terkesan memuakkan. Apalagi ketika deadline di depan mata. Lantaran malasnya menulis, pernah suatu hari gue harus submit abstrak untuk ngedaftar sebagai pemakalah di salah satu seminar bioteknologi gitu (ini atas inisiatif dosbing gue), nah apesnya, gue baru tahu kalau deadlinenya tuh tanggal 8 Oktober, dan tanggal 8 Oktober akan berakhir 2 jam ke depan (saat itu). Kalau gue ga sedang didera kemalasan menulis, gue pastinya udah menyiapkan naskah itu jauh-jauh hari, secara gue udah tau event itu seminggu sebelumnya. Dan coba tebak apa yang terjadi? Gue berusaha menyusun 200 kata itu dalam waktu kurang dari 2  jam dengan dada bergemuruh, takut ga selesai, takut apa yang gue tulis ga mutu banget karena ga ada waktu buat revisi. Syukurnya karena pacuan adrenalin, tulisan itu selesai, agak lebih dari 2 jam sih, tapi menurutku it's ok. Tapi... di akhir gue baru nyadar, kalau abstraknya harus ditulis dalam Bahasa Inggris juga. Shit! Gue bukannya ga bisa, cuman untuk nulis sesuatu yang berbau akademik dalam bahasa asing, gue sangat-sangat ga PEDE! Saat itu gue cuma bisa mengutuki diri sendiri sambil berharap panitianya berbaik hati mau menerima keterlambatan naskah gue yang akan gue undur sampai tanggal 9 karena harus minta bantuan My Angel a.k.a Kak Fani buat ngetranslet 200 kata ga mutu yang udah gue susun sebelumnya ke English.

Nah, mungkin kalian udah bisa menebak hubungan antara ketidakproduktifan menulis gue dengan judul tulisan ini: Kecanduan Drakor. For your information,

Drakor = Drama Korea.

Yups, dalam 24 jam sehari, ketika sebagian besar waktu itu habis buat nge-lab dan istirahat, gue masih bisa menyelipkan jatah nonton drakor. Biasanya setelah pulang ngelab, mau jam berapapun itu, gue harus nonton seenggaknya 1 atau 2 episode baru bisa tidur. 1 episode berdurasi 1-2 jam. Jadi, dalam sehari gue bisa menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam hanya untuk nonton. Bayangkan jika 4 jam itu bisa gue alokasikan buat hal lain, menulis tesis misalnya. Ditambah lagi, ketika gue udah pulang dari lab jam 9 malam nih, rasa capek yang teramat sangat menyebabkan gue ga bisa langsung tidur, alhasil gue nonton drakor lagi, dan dia menginvasi waktu istirahat gue. Akibat waktu istirahat yang kurang, keesokan harinya gue bangun dalam keadaan lemes!

Permasalahannya, gue udah tau penyebab ga teraturnya kehidupan gue, tapi tetap aja gue ga bisa ngerubah itu. Apa seperti ini perasaan para pecandu drugs? Syukur ya gue cuma kecanduan drakor. Bahkan untuk ngebuat tulisan ini, gue harus nonton drakor dulu dan setelah tulisan ini selesai, drakor K2 episode 8 udah menunggu buat gue tonton. Parah banget ga? Gimana nasib tesis gue? Ok, jangan tesis dulu, gimana nasib makalah seminar di Jogja yang deadlinennya jam 12 malam ini yang satu hurufpun belum gue tulis?

Belum lagi dengan kebiasaan baru gue yaitu menonton ulang drakor yang sebelumnya udah pernah gue tonton. It means selain drakor yang sedang ongoing, gue juga menyelipkan jatah untuk kembali menikmati drakor yang menurut gue worth it. Ya, 2 hari ini gue udah melahap drakor It's Ok That's Love yang udah gue tamatkan di tahun 2014 kemarin. Gue sebetulnya tipikal orang yang ga suka nonton drakor yang sama sebanyak 2 kali, mau sebagus apapun drakor itu. Prinsip ini udah gue pegang sejak drakor jaman Endless Love sampai saat ini ketika Scarlet Heart Ryeo booming. But I has canged, prinsip itu gue langgar 2 hari yang lalu.


  • Teori 1: mungkin gue cuma kangen dengan tokoh di drama tsb, secara kharisma Jo In Sung dan keunyuan DO bikin nagih.
  • Teori 2: di periode Oktober ini drakor yang bermutu sedang minim. Even Scarlet Heart Ryeo sedang booming, tapi drakor itu ga masuk standar gue. Maaf oppa Lee Jun Ki, kali ini kamu salah pilih drama. Seharusnya lawan main kamu di drama itu bukanlah para Idol yang kemapuan actingnya so-so~
  • Teori 3: Pun ada drakor yang masuk standar gue seperti Moonlight Drawn by Clouds, tapi drama itu sedang memasuki tahapan membosankan. Penikmat drakor pasti tahu, ada kalanya drakor ongoing yang awalnya greget menjadi ga greget lagi ketika memasuki episode 10 ke atas. Apalagi jika nontonnya 2 episode per minggu. Kita keburu lupa bersambungnya saat moment apa hahaha. biasanya untuk drakor jenis ini, gue prefer buat nunggu sampai tamat dulu terus gue habisin sekaligus.
  • Teori 4: Drakor K2 yang masih masuk stase greget pun cuma bisa 2 episode per minggu. It means kebutuhan akan tontonan drakor yang menurut stadarku tidak tercukupi.

Itu 4 alasan yang bisa jadi penyebab ga tertolongnya gue sampai harus nonton drakor yang sama 2 kali. Semoga ga keterusan. Itu doa yang dengan sangat tulus gue panjatkan, bantu Amin-nya ya readers.

Sebetulnya dengan nonton drakor, banyak ide-ide gila yang terlintas di kepala gue. Ide tersebut sangat membantu dalam penyelesaian tulisan gue (yang jelas bukan tesis) yang gue namain the everlasting story. Kenapa namanya seperti itu? karena ide pokok dan karakter cerita itu udah ada di kepala gue sejak jaman SMA, tapi sampai saat ini ketika gue udah tingkat akhir di bangku S2, cerita itu belum juga selesai. Sering kejadian, ketika selesai nonton drakor, gue terilhami sesuatu dan pengen gue terapkan di story gue, tapi lantaran ngantuk dan capek yaaa ga jadi. Keesokan atau sekian hari berikutnya, saat gue pengen nulis, ide itu udah lenyap, ga ada, atau bahkan ga greget lagi seperti halnya ilham itu pertama kali mampir di kepala gue. Sedih kan? Banget!

Gue jadi bertanya-tanya, apa iya selamanya gue hanya jadi penikmat drakor aja? Dengan umur yang udah segini (ok, tahun besok gue Insya Allah 24 y.o), gue pengen banget menghasilkan sesuatu dari hobi gue, I mean something yang berbau materi. Gue ga mau ini hanya jadi kesenangan gue semata, secara dia udah mengambil porsi yang cukup besar di 24 jam yang gue punya dalam sehari, dan hampir 12 jam ketika weekend (gue sering nonton dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore, istirahatnya cuman pas lagi Solat). Dan unfortunately, gue ga terlalu berharap banyak terhadap profesi yang kelak bisa gue geluti dari hasil kuliah selama 6 tahun ini (mungkin 7 tahun karena ada 1 fase lagi yang harus gue lewati). Ini lebih ke gue-nya yang ga-mau atau agak-malas sih, bukan salah profesinya. You can read tulisan gue di blog ini juga yang judulnya "Agar Tidak Salah Jurusan". Semua kegundahan gue secara ga langsung tertuang di sana.

Inti dari tulisan ini, gue pengen banget menghasilkan sesuatu dari hobi yang sekarang udah berubah jadi candu, tapi ga tau gimana caranya. So, kalau ada yang kebetulan baca dan sekiranya mau ngebantu gue lepas dari lingkaran setan ini atau tau gimana caranya menghasilkan sesuatu dari problem yang sama kayak gue, please contact me at 085241746265. Your advice means a lot to me. Bye.    
    

    

       

Rabu, 24 Agustus 2016

Divortiare dan Twivortiare

Gues what?
I've end up with 2 novels from Ika Natassa just in 24 hours!
Dan novel ketiga dari serial Divortiare akan segera menyusul...


Mau sedikit review tentang apa yang udah gue baca (sok) wkwkwk.


Divortiare
Maaf, gue telat banget dengan euforia yang mungkin udah sejak tahun kapan berlangsung akibat novel ini. Dan seperti kebanyakan orang yang jatuh cinta dengan tokoh Beno, gue pun begitu! Divortiare menceritakan tentang gimana kehidupan dua orang after perceraian. Yang buat cerita ini makin greget adalah ternyata kedua tokohnya (ex-wife&husband) masih saling sayang. Ups, maafkan spoiler dikit yaaa.

Ika Natassa kembali berhasil ngubek-ngubek perasaan gue lewat Alex dan Beno, lewat love-hate relationshipnya mereka. Bagaimana mereka terlihat membenci setelah perceraian itu, tetapi masih saling memperhatikan. Beno yang masih sangat care dengan Alex ketika ia tiba-tiba sakit, meskipun dengan alasan: "itu udah kewajibanku sebagai dokter". Bukan cuma dengan Alex sih, tapi dengan keluarga Alex, specially her mother. Dan Alex yang ngga bisa kalau ditangani oleh dokter selain Beno ketika sedang sakit dengan dalih: "dia kan dokter pribadiku, ini cuma hubungan pasien-dokter" atau "mencari dokter yang nyaman dan loe percaya itu susah". Ok, kayak ngga ada dokter lain aja hahaha. 

Cara Mba Ika menggambarkan rasa sakit setelah perceraian juga bisa dibilang "wow banget". Gue yang notabene belum pernah nikah apalagi cerai (amit-amit), bisa merasakan how Alex feel. Ia yang begitu nggak bahagia dengan kehidupan pernikahan di tahun keduanya, yang sangat mencintai dan membenci Beno disaat yang sama, dan ia yang begitu frustasi ketika meminta Beno untuk menceraikannya. Dan gue juga entah kenapa bisa paham gimana perasaan Alex ketika Beno mengiyakan, terlepas dari apapun alasannya yang belakangan gue ketahui ketika baca Twivortiare. It's so hurt! really hurt!

Tapi bukan Mba Ika namanya kalau nggak memberikan "bumbu" dalam ceritanya. Ada seorang tokoh, namanya Denny. Menurut gue, dia itu bumbunya, bisa dibilang penyedap rasa. Keberadaannya cukup penting dan kuat menurut gue, sampai-sampai perhatian gue sempat teralih dari shippernya Alex-Beno menjadi Alex-Denny. Tapi itu cuma sementara sih, sampai gue menyadari dan menyelami karakter Alex yang ternyata belum bisa menemukan pengganti Beno. Hey, itu artinya dia masih mencintai (I mean masih sangat mencintai) her ex-husband: Beno. So, gue balik lagi jadi pendukung setia Alex-Beno. Maaf ya Denny... I believe, you will meet another woman, mungkin besok, atau hari berikutnya. Kamu orangnya baik kok ;)

Terakhir, gue agak sedih sih baca endingnya, yang pasti semua orang pada saat itu (beberapa tahun yang lalu ya, ketika novel ini pertama kali terbit) akan berkata hal yang sama: nge-gantung! Bayangin gimana perasaan fans Mba Ika pada saat itu yang masih penasaran sama kelanjutan kisa Alex-Beno tapi ngga bisa berbuat apapun, secara Twivortiare baru ditulis 4 tahun kemudian. Syukurnya, karena gue tergolong orang yang telat baca, gue bisa men-skip rasa penasaran itu. Hahaha. 3 of 3 is my hand right now.

Twivortiare
Awal-awal baca novel ini, gue agak sedikit bingung dengan gimana cara mencari cara yang enak supaya gue bisa paham apa yang coba Alex sampaikan lewat tweet-an-nya. Gue main twitter sejak 2010, cuma agak aneh sih ngeliat apa yang sering gue liat di layar hp terus berpindah ke sebuah buku. Dan itu bukan cuma sebagian, seperti halnya salah satu adegan di novel lain ketika sang tokoh menerima pesan di media sosialnya. Tetapi ini all of the story, one book, from the begining to the end. Tapi, setelah baca beberapa halaman, gue mulai terbiasa, dan jadi sama aja rasanya seperti nge-stalking akun mantan #eh atau gebetan sebelum gue tertidur. Bedanya, ini bukan di scroll tapi dibalik lembar demi lembarannya. Pokoknya salut buat Mba Ika Natassa yang sudah berhasil menciptakan cara menulis yang baru. I adore you Mba!

Di Twivortiare, apa yang menurut gue nggantung banget di sekuel sebelumnya terjawab sudah. Kenapa mereka bercerai, bagaimana mereka akhirnya kembali bersama, dan apa yang terjadi pada Denny, dll. Masalah anak yang gue baru tau ternyata begitu menjadi sangat sensitif ya bagi pasangan yang udah lama nikah tapi belum diberikan rezeki itu oleh Allah? Dan di novel kedua ini gue baru menyadari betapa-sangat-sibuknya pasangan tersebut. Sumpah! gue jadi sedikit 'ngeri' ketika membayangkan kalau itu terjadi pada gue. Satu lagi, gue bisa merasakan lewat novel ini kalau ternyata di balik kelempengannya Beno sangaaaaaaaaaat mencintai Alex, begitupun sebaliknya. Pengen juga punya orang yang seperti itu dalam hidup gue, pengen ada seseorang who treat me like Beno to Alex. Pengen! Tuh kan baper! Thanks Mba Ika!

Ok, Twivortiare 2 belum bisa gue bahas ya, secara masih tersampul indah dengan plastiknya. Tapi tenang, dalam minggu ini akan gue lahap. I've gotta go now, masih punya kewajiban lainnya sebagai mahasiswa tingkat akhir banget, bye :)



Mereka yang menjadi penyebab gue harus ngirit bulan ini :p
  
    

       
    

Sabtu, 20 Agustus 2016

Curhatan TA (part 1)

Judul : Curhatan TA
Chapter : Ligasi
Backsound : Suara manis dede Shawn Mendes


Sebetulnya gue ga tau apa korelasi antara TA dan Shawn Mendes, tapi yang jelas saat sedang menulis chapter ini, alunan gitar dan lembutnya suara Shawn Mendes terasa cocok. Satu kata: menentramkan. Yups, gue sedang galau-galaunya malam ini. Asli galau TA! Ok, buat yang belum tau, TA adalah singkatan dari Tugas Akhir (ini bagi yang benar-benar belum tahu loh ya). Kemarin gue udah ligasi 22 derajat celcius-1 jam dan hasilnya langsung ditransform. Alhamdulillah, alhamdulillah banget, setelah 16 jam, transformannya tumbuh. Wait, kayaknya gue udah nyerocos panjang lebar ya tanpa memperdulikan perasaan pembaca (sok ya gue, hehehe). Buat yang bingung apa itu ligasi, transfromasi, transforman, sebetulnya kalian bisa googling sih. Tapi mudahnya gini, jadi gue itu sedang mencoba menggabungkan 2 part (namanya vektor dan insert). Proses tersebut namanya ligasi. Gue ngelakuinnnya (lebih tepatnya inkubasi) di suhu 22 derajat celcius selama 1 jam. Gue dan orang-orang yang ngerjain kayak gini untuk bisa tau ligasinya berhasil apa ngga yaaa jalan satu-satunya (yang gue tau sampai saat ini ya) adalah transformasi. Apa itu? yaitu memasukkan hasil ligasi (hasil ligasi ya berupa gabungan antara vektor dan insert, intinya mereka itu DNA lah) ke sel bakteri. Untuk tahap ini bakteri yang gue pakai adalah E. coli DH5alfa. Terakhir, transforman, itu adalah bakteri yang gue tumbuhin yang di dalamnya ada DNA yang udah gue masukin. Balik lagi, untuk tau ligasinya berhasil apa ga, ya harus ngecek transformannya apakah membawa DNA yang kita mau apa tidak. Caranya adalah dengan isolasi plasmid, yang kalau pakai metode Alkaline Lysis bisa menghabiskan waktu 8 jam, belum konfirmasinya (analisis migrasi dan PCR) bisa sampai nginep gue kalau kayak gini, demi mengobati rasa penasaran terhadap hasil ligasinya. Dan itu yang akan gue lakuin besok (Eh hari ini ding, ini kan udah Sabtu dini hari). Fix! malming di Lab Gene wkwkwk.

Back to the topic, asli gue deg-degan. Ini tuh udah ligasi ke sekian gue. Tapi jumlahnya belum ngalahin rekor kegagalan gue transform ke bakteri lain sih (baca: Agrobacterium tumefaciens) yang mungkin akan gue ceritain di chapter berikutnya. Kepehapean (I know you can spell it well) hasil ligasi pertama, jujur, masih menghantui gue. Gimana tidak, dari 31 koloni, yang gue periksa, tak ada satupun transforman membawa DNA yang gue inginkan, it means ga ada yang terligasi, hiks. Semua koloni isinya vektor kosong. Entah itu karena self ligation (yang sepertinya ga mungkin, karena gue pake 2 enzim restriksi yang berbeda) atau mungkin vektornya benar-benar ga kepotong. Ok, gue ga bakalan jelasin apa-apanya yang terdengar asing ya, silahkan arahkan kursosr ke google, dan ketikkan kata yang ingin anda ketahui artinya. Oh ya, 31 koloni itu ga gue periksa sekaligus sehari sih. Waktu itu gue bagi jadi 3 batch. Jadi bisa dibilang gue ngelewatin siklus 8 jam-lebih itu sebanyak 3 kali. Mabok! Dan setelah proses panjang itu gue harus menerima kenyataan pahit kalau ligasinya gagal men, gagal!!!

Btw, sekedar info, ligasi itu ngga asal mipet terus inkubasi. Untuk bisa menggabungkan vektor dan insert, berarti gue harus punya stoknya kan. Nah, stoknya ini harus dipotong dulu dengan enzim (restriksi-gue pakenya BglII dan SpeI). Hasil restriksi dielektroforesis dulu, kemudian dipurif, lalu dielektroforesis lagi. Setelah itu baru bisa ditentukan berapa perbandingan vektor dan insert yang ideal agar ligasinya berhasil, tapi ga menjamin juga akan berhasil sih. Ada juga yang ngecek konsentrasi akhir hasil purif. Kalau gue sih malas, buang-buang stok, dan harus bolak-balik Labtek yang berbeda. Ya itulah gue dengan segala kekurangannya hehehe. Jadi, bayangin kalau ligasi gagal, artinya harus ngulang dari tahap restriksi dkk lagi. Pokoknya kalau udah ngomongin ligasi, gue udah pasrah terserah Allah aja.

Belum sembuh dari luka ligasi pertama. Gue dikejutkan dengan hasil ligasi kedua sampai keenam yang bentuk transformannya tuh ngaco dan gue ngga yakin kalau itu tuh bakteri yang gue tanam. Secara kontrol negatifnya tumbuh men! Dan itu terjadi se Lab gene yang pakai bakteri sejenis dan antibiotiknya Kanamisin. Mungkin bakterinya sudah resisten, I don't know. Dan yang bikin lemes, enzim SpeI udah dikit banget dan kalaupun beli masih harus nunggu sampai bulan depan. Hello... jadi gue harus vakum lagi dari TA? Disaat yang lain udah mau beres? NO!!!

Untungnya di ligasi keenam, setelah mengganti sumber bakterinya juga, transforman yang tumbuh ga macem-macem. Bentuk koloninya terlihat menjanjikan. Itulah yang gue cuplik untuk kultur cair dan akan melewati tahapan 8 jam. Kontrol negatifnyapun bersih. Alhamdulillah... Semoga ini jadi ligasi terakhir ya.. Pengen segera ke tahap selanjutnya. Semoga hasil PCRnya bilang kalau plasmid itu adalah pCambia-cyp. amiiiinnnnnn... Siapapun yang baca ini, tolong doakan ya :) Udah ga tau harus ngapain, gue cuma bisa berkeluh-kesah, bersyukur, dan berharap disaat yang sama. I have to go to sleep, bye :)



and take a piece of my heart
and make it all your own
so when we are apart
never be alone
you'll never be alone


p.s:  Shawn mendes - Never be Alone, lagu terakhir di playlist gue sebelum mengakhiri cerita ini. 



    

    

Jumat, 06 Mei 2016

Agar Tidak Salah Jurusan

Dalam beberapa minggu ini diriku bertanya-tanya:
"Kenapa menulis tesis tidak semudah menulis artikel di blog?"
Pertanyaan lanjutan:
"Apakah aku salah jurusan?"
Sebetulnya pertanyaan tentang salah jurusan bukan baru kali ini terlontar dari mulutku, sering. Tetapi selalu ku bantah karena mengingat segala hal yang sudah ku korbankan untuk pilihan ini. Awalnya selalu berhasil, tetapi entah kenapa otakku sering menolak belakangan ini. Mungkin ia pun telah lelah, sama seperti pemiliknya.

Bagi teman-teman yang sedang berada di persimpangan jalan dan sedang menentukan kemana arah hidup kalian ke depannya, mungkin tulisan ini bisa membantu.
  1. Jangan gegabah memilih jurusan apa yang akan kalian masuki. IPA tidak mesti harus masuk ke jursan yang berbau IPA, begitu pula IPS tidak harus lanjut ke jurusan tentang IPS. Intinya jangan gegabah, pikirkanlah dengan matang.
  2. Apa yang harus dipikirkan? Simple! yaitu mau jadi apa kalian ke depannya. Ingat, MAU JADI APA, bukan: "jika saya masuk juruan A mungkin mudah ya dibanding jurusan B, ya sudah A saja kalau begitu". Jadi, jurusan yang kalian pilih adalah jurusan yang akan mengantarkan kalian menjadi sosok yang kalian inginkan.
  3. Jika belum tau mau jadi apa ke depannya, cobalah tengok profesi sanak saudara kalian, teman kakak, teman ayah-ibu kalian, tetangga, dll. Lihatlah seperti apa pekerjaan mereka. Adakah diantaranya yang kira-kira kalian sukai. Sekalian tanya suka-dukanya bekerja di bidang yang mereka geluti supaya dirimu makin mantap memilih. Jika tak ada deretan dari orang-orang yang telah saya sebutkan tadi, mungkin kalian bisa googling. Saya yakin Mbah google bisa menjawab pertanyaan kalian.
  4. Pastikan jurusan yang kalian pilih (tentunya telah memenuhi kriteria point 2) akan kalian sukai ke depannya, karena sesulit apapun jurusan itu, jika kita suka, pasti dengan mudah kita taklukan. Sebaliknya, jika kita tidak menyukainya, yakinlah, semudah apapun masalah yang akan kalian hadapi kedepannya, maka akan terasa sangaaat berat. 
  5. Namun, jika kalian tetap ngotot menjadi A dengan begitu berarti kalian harus kuliah di jurusan A (padahal kalian tidak suka palajaran di jurusan A), cobalah berdamai dengan dirimu sendiri. Tanyakan kepada hati dan otakmu apakah mereka siap mengawalmu untuk melewatinya? Coba buat perjanjian dengan dirimu sendiri bahwa apapun yang terjadi ke depannya, dirimu tak akan menyerah, karena ini demi profesi A yang telah lama kau idamkan. Jika perjanjian itu telah kau sepakati, ucapkanlah basmalah dan minta kekuatan kepada Allah untuk melewatinya.
  6. Buat yang telah menetapkan pilihannya akan B dan ternyata jurusan untuk mencapai B adalah sesuatu yang disenangi, tersenyumlah, ucap basmalah, dan lakukan usaha terbaikmu, karena tidak banyak orang seberuntung dirimu.
  7. Buat yang belum mengetahui kemauannya apa hingga membaca point 7 ini, bersabarlah, tak apa terlambat memutuskan sesuatu dibanding cepat namun akhirnya salah. Salah jurusan bukan sesuatu yang bisa kau ulangi seenak hati seperti halnya salah adonan ketika membuat kue. Ketika salah jurusan, berarti dirimu telah membuang sekian bulan, tahun hidupmu dan waktu itu tak akan bisa kau kembalikan. Terlebih lagi kau tidak bisa berhenti di tengah jalan jika tak ingin di cap sebagai orang gagal. Pilihannya hanyalah melanjutkan sesuatu yang kau tau tidak kau inginkan dan dirimu akan selamanya terjerumus di sana: gelap, menakutkan.

Ayooo semangat :)
Buat yang merasa sudah salah jurusan, nanti yaaa diriku bagi tips dan trik menikmatinya hehehe...
Bye, i've gotta go now.

with love,
Lely Saula       

Senin, 02 Mei 2016

Bahagia karena Bersyukur

Tak sulit melukiskan kebahagiaan, sama halnya ketika menumpahkan kesedihan. Apalagi saat kebahagiaan itu dapat menjadi penawar rasa sakit. Kebahagiaan tak melulu soal berapa uang yang didapat ataupun tentang cinta (semu) dari seseorang yang disebut pacar. Arti kebahagiaan luas, tidak sedangkal itu, dan dimulai dari hal yang sederhana. 

Bahagia itu kita yang tentukan, mau sekecil apapun penyebabnya. Seperti yang terjadi minggu ini:
1. Alhamdulillah, presentasi progress report TA ke Pak Sony berjalan lancar.
2. Alhamdulillah, materi siklopeptida (eltur) diputuskan tidak ada ujiannya.
3. Alhamdulillah, minggu ini menjadi presentasi terakhirku di kelas Bioinfo, itu artinya bye rabu-kamis rempong
4. Kamis dapat traktiran es krim magnum dari Pak Sony saat lagi ngobrolin vektor dan enzim yang akan dipesan. Alhamdulillah :)
5. Dan Jumat sudah presentasi progress report TA di hadapan dosen-dosen KKBF, alhamdulillah semuanya aman dan terkendali.

Kembali ke konsep bahagia, saya masih berkeyakinan, dimana ada bahagia pasti diikuti dengan rasa syukur. Dan itu memang benar. Tuhan pun telah menjanjikan seperti itu: barang siapa yang selalu bersyukur maka akan ditambahkan nikmatnya. Bersyukur sebagai bentuk bagaimana kita berterima kasih kepada Tuhan, karena apapun kehendak Tuhan, sudah pasti itu yang tepat untuk kita. Tepat menurut Tuhan namun kadang kala masih dianggap tidak memuaskan menurut kita. Tapi yakinlah, apapun itu, keputusan-Nya adalah sesuatu yang nantinya akan kita sadari bahwa memang benar Tuhan menggariskan hal tersebut karena sangat bermanfaat untuk kita.

Bahagia yang diperoleh dengan cara bersyukur membuat kita memandang suatu hal dari sudut yang berbeda. Contohnya cerita es krim di hari kamis kemarin. Bagi orang lain yang sekedar membaca cerita ini mungkin akan berpendapat: "ah, apasih cuma sekedar es krim", tapi bagiku, hal sekecil itu mampu membuatku tersenyum sepanjang hari. Es krim itu ikut lumer dengan segala derita dan kekhawatiranku akan penelitian. Lega rasanya setelah keluar dari ruangan Pak Sony, terima kasih pak :) hanya sekedar bercerita sambil melihat senyum bapak membuat beban di pundakku sedikit terangkat, seolah melihat Ayahku sedang berada di depanku.

Intinya, yang ingin coba saya sampaikan adalah:
"Berbahagialah, walaupun alasan bahagiamu hanyalah hal kecil, karena hal kecil itu tetap datangnya dari Allah. Dan bersyukurlah, agar bahagiamu bertambah nikmat"



From me,
the smiling girl
:)       

Selasa, 19 April 2016

Cerita Artomoro

Rintik hujan perlahan turun ketika ku memasuki Jl. Puter. Dinginnya hembusan angin membuatku sedikit merapatkan long coat hitam yang saat itu sedang ku pakai. Jarak antara titik pemberhentian angkot dan warung makan yang hendak kutuju tidaklah terlalu jauh, jadi ku urungkan niat untuk sekedar mengeluarkan payung dari dalam tas merahku. Toh hujannya tidak deras-deras amat pikirku saat itu. 

Aku kembali menyambangi warung kenangan, yang sebetulnya tidak ingin ku datangi lagi. Tapi apa daya, keramahan bapak dan ibu pemiliknya, yang sering ku temui di jalan ketika akan berangkat ataupun pulang dari kampus, membuatku tergerak kembali ke tempat ini. Rasanya tidak terlalu berat, biasa saja, bahkan akupun bahagia mendengar sapaan mereka. 
"Hari ini pulang cepat ya neng?" tanya ibu sambil tersenyum. 
Membalas senyuman ibu akupun menjawab,
"Iya bu alhamdulillah hari ini selesainya lebih cepat, hehehe". 

Wajar sih ibu bertanya seperti itu, karena sudah beberapa kali beliau mendapatiku pulang dijam-jam yang sulit dinalar oleh pikirannya. Ibu sering bertemu denganku saat hendak membuang sampah setelah warungnya tutup (Mereka mulai berjualan dari ba'da maghrib, jadi bisa dibayangkan tutupnya jam berapa. Dan pada waktu seperti itulah ibu sering bertemu denganku yang berwajah lusuh). Oh ya, ketakutan akan kenangan yang selama ini menahanku untuk tidak kembali dulu di warung itu, rupanya hanya kekhawatiran belaka. Itu semua hanya ketakutan yang ku ciptakan sendiri. Faktanya, aku bisa menginjakkan kaki di sana tanpa mengingat kenangan-kenangan sialan itu. Aku akan kembali lagi besok, lusa, atau mungkin beberapa hari ke depan. Ada cerita menarik yang ku dapatkan di sana. Cerita dari bapak dan ibu.

Kembali ke warung tenda itu, tanpa sengaja aku bertemu dengan teman sekosan di sana. Namanya Mba Tami, mahasiswi Universitas Padjajaran. Kami saling bertegur sapa, layaknya teman lama yang baru ketemu. Memang akhir-akhir ini kami jadi akrab. Akan ku ceritakan suatu hari nanti bagaimana prosesnya. Awalnya tak ada yang berbeda. Warung itu masih sama, masih memiliki banyak pelanggan. Untuk memperoleh menu yang diinginkan, kita bisa menunggu sampai satu jam. Mensiasati hal itu, akupun memesan apa yang Mba Tami pesan, agar dibuatnya bersamaan sehingga waktu menunggu bisa sedikit direduksi. Sambil menunggu, bapak yang dengan lihai menghendel kuali, sendok, kompor, dll mulai bertanya kepadaku,

"Di bandung sudah kemana aja neng?" 
Ku jawab seadanya "Paling sekitar Lembang pak, terjauh Ciwidey". 
"Berarti belum ke garut ya?"
"Belum pak, cuma pengen, tapi ga tau kapan bisanya, hehehe" Ku tutup jawaban itu dengan tertawa garing, seperti kue yang kelebihan backing soda.
"Kalau ke Borobudur pernah?" sambung bapak.
"Pernah sih Pak, cuman waktu itu umur saya masih 5 tahun" ku ceritakan pula sekilat kisah hidupku di Jogja yang saat itu ikut ayah sekolah.
"Kalau umur 5 tahun mah ga bakalan ingat apa-apa, nanti kesana lagi ya neng"
"Iya pak, Insya Allah" jawabku sambil tersenyum (Ah, seketika ingat Jogja dan sejuta keramah-tamahannya)
"Bapak asalnya dari Lamongan (kalau ga salah dengar ya, soalnya saat itu posisiku sedang menghadap ibu hendak membayar makanan yang sudah jadi tersebut) sekitar 2 km dari Borobudur" 
Aku hanya bisa tersenyum dan berkata kalau sudah tidak ingat lagi daerah-daerah tersebut, karena usia yang masih sangat muda ketika numpang tinggal di sana. Rupanya Mba Tami yang sedari tadi diam, mengamati percakapan ini. Dia mulai terlihat nyambung berbicara dengan Bapak soal daerah-daerah yang entah tak ku ingat namanya. 

Saat sedang menunggu Mba Tami yang berbicara dengan Bapak, akupun memberanikan diri bertanya kepada ibu,
"Kalau ibu aslinya dari mana?"
"(menyebutkan sebuah nama daerah yang kulupa juga namanya apa) sekitar 2 km dari tempat bapak" jawab ibu.
"terus, ibu dan bapak ketemunya di mana?" tanyaku lagi. Di dalam hati, aku menduga kemungkinan besar di Borobudur saat mereka berdua sedang tamasya. Ternyata dugaanku meleset.
"ya di Bandung ini" jawab ibu sambil tersipu malu. "waktu itu ibu kerja di pabrik yang di Cimahi terus bapak jualan di Sukajadi"
Masya Allah, seketika ku memuji di dalam hati. Bagaimana tidak, dua insan yang ternyata jodoh dipertemukan Allah dalam jarak sekian ratus kilometer dari daerah asalnya. Tak ada yang menduga bahwa pertemuan mereka di Bandung (sekedar informasi, jarak antara Cimahi dan Sukajadi sekitar 11 km) bisa menjadi awal dari terbentuknya sebuah keluarga yang "keren".

Dari percakapan singkat semalam, akupun akhirnya mengetahui sesuatu sekaligus alasan mengapa aku meberikan istilah keluarga keren, bahwa bapak dan ibu memiliki dua orang anak. Kedua anaknya terbilang sukses menurutku. Anak pertamanya alumni STAN yang sekarang sedang bekerja di Jakarta. Anak keduanya lulusan S1 Farmasi ITB yang saat ini sedang menempuh pendidikan apoteker di ITB juga. Mendengar nama STAN dan ITB seketika saya kembali memuji Allah, Masya Allah... Ia menganugrahi kedua anak yang sukses membahagiakan dan menjadi pelipur lara kedua orang tuanya. 

Akupun kembali teringat bagaimana dulu susahnya ketika ingin masuk STAN, sebuah sekolah dengan ikatan dinas, yang berarti kamu sudah akan mempunyai gaji ketika diterima dan berstatus sebagai mahasiswa di sana. Cita-cita yang dulu sangat ku idamkan karena dengan itu, setidaknya aku bisa membanggakan kedua orang tuaku. Anak pertama bapak-ibu berhasil masuk ke sana. Dan aku yakin, itu pasti tanpa uang pelicin. Dengan kepribadian seperti itu dan perjuangan yang saya lihat sendiri bagaimana susahnya bapak-ibu mengumpulkan rupiah dengan berjualan makanan (mereka tidak berjualan 24 jam, karena dengan memulai ba'da maghrib-sekitar jam 2 dini hari saja, bapak sudah sangat kelelahan, ditambah subuhnya beliau harus segera ke pasar dan mulai menyiapkan bahan bakunya sejak siang), sudah pasti anaknya masuk dengan hasil kerja keras dan jerih payahnya sendiri. Dan itu sangat jarang. Bukannya menjelek-jelekkan ya, saya pernah punya pengalaman, dimintai uang pelicin jika ingin masuk kesana, 100 juta, jumlah yang sangat tidak sedikit di tahun 2010 saat perekonomian keluargaku belum seperti saat ini. Itulah mengapa saya mengatakan anak pertama bapak-ibu pastilah cerdas.

Beralih ke anak kedua bapak-ibu, yang saat ini berstatus mahasiswa apoteker di ITB. Masuk ITB bisa dibayangkan bagaimana susahnya. Apalagi ketika menjalani tahun-tahun sebagai mahasiswa di sana. Kuliah di farmasi juga bisa dibilang tidak murah. Tapi, ternyata anak kedua ibu memperoleh beasiswa. Kembali ku mengucap Masya Allah. Dia tidak memberatkan bapak-ibu dengan persoalan biaya kuliahnya. Anak ini pasti cerdas dan punya tekat kuat. Saat mendengar cerita itu, aku menatap ibu sambil berkata "bapak dan ibu hebat". Ibu hanya tersenyum sederhana.

Menapaki jalanan gelap temarang menuju kosan, aku kembali terhanyut dalam cerita-cerita yang barusan ku dengar. Begitu kuasanya Allah. Ditengah kehidupan ekonomi yang tidak menentu, Allah menghadirkan anak-anak mandiri yang bisa menjadi kebanggaan bapak-ibu. Allah begitu adil. Dengan usaha keras bapak dan doa ibu yang mustajab, serta jiwa anak-anak mereka yang memang seorang petarung, menjadikan keluarga ini layak untuk dicontoh dan disegani. Jika kelak punya anak nanti, aku ingin berguru kepada bapak-ibu bagaimana cara mendidik mereka di tengah kesederhanaan agar  menjadi seperti anak-anak mereka.

Sesungguhnya, melihat anak-anak bapak-ibu, terbersit sedikit rasa iri dalam hatiku. Aku kembali berkaca, sejauh ini apa yang sudah ku lakukan untuk kedua orang tuaku? Sudah bahagiakah mereka? Apakah mereka senang memiliki anak sepertiku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar semalam suntuk dalam otakku. Mungkin suatu saat aku ingin menanyakannya ketika pulang nanti.

Ah, cerita bapak-ibu membuatku tak sabar ingin kembali lagi ke warung itu: Artomoro...        
  

Minggu, 17 April 2016

Sunday

Hari Minggu...
Hari ini aku ingin menulis tentang hari minggu. Kenapa minggu? Tak ada alasan khusus sih, hehehe. Btw, mungkin aku akan menyebutnya Ahad saja yaaa, lebih enak didengar oleh telingaku. Check it out...

Bicara tentang hari ahad, siapa sih yang tidak senang dengan hari ini. Hari saat beban sekolah, kuliah, kerja, bisa sedikit kita tanggalkan sejenak. Hari saat berkumpul dengan keluarga. Hari saat hobi lama bisa dieksplorasi lagi ataupun hanya untuk sekedar leyeh-leyeh. Pokoknya banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan dihari ini.

Tapi...
Di hari ahad juga saya merasa sedih, karena besoknya adalah senin. Hari dimana semua aktivitas dalam seminggu dimulai dari hari itu. Apalagi jika di hari senin ada moment penting yang harus kita lewati yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus dipersiapkan dari sehari sebelumnya, yaitu hari ahad. Jika sudah begini, tak ada hari leyeh-leyeh lagi *sad face.

Yups, I love and hate sunday at the same time...

Menyukai dan membenci sesuatu di saat yang bersamaan memang sudah menjadi hobiku. Kadang ingin menghilangkannya, pokoknya kalau suka ya suka kalau benci ya benci. Tapi qodarullah saya orangnya begini, hehehe. Yang lebih parahnya lagi, terkadang seperti ada dua suara yang sedang berdebat di dalam kepalaku. Dan apa yang kulakukan? Hanya diam dan mengamati serunya perdebatan mereka. Jika sudah muak melihat mereka, yang saya lakukan adalah mengirim sinyal agar mereka segera berhenti. Syukurnya mereka tak pernah mengabaikan sinyal itu.

Meskipun kadang akupun sering mempertanyakan, apakah aku normal atau tidak, tapi di satu sisi aku kembali menjawabnya, tak mungkin aku sampai pada titik seperti ini jika ada yang tak beres dengan diriku sendiri. Memang terkadang kalimat penenang seperti itu, yang diucapkan oleh sisi lain kita, bisa menjadi penyelamat suasana sekaligus penyemangat. Dan itu tidak diperoleh dengan mudah. Kita bisa sampai pada titik itu (titik dimana kita memaafkan diri sendiri) saat tempaan batu bertubi-tubi tidak lagi terasa sakit (bukan dalam arti yang sebenarnya).

Ok, sepertinya diriku mulai ngelantur, ini sudah out of the theme. Sebelum makin ngelantur aja, izinkan diriku yang tak punya banyak followers ini berpesan:

"Bagaimanapun harimu dalam seminggu belakangan ini, tubuh, otak dan hatimu punya hak untuk beristirahat sejenak, berilah mereka waktu untuk itu"



Selamat berakhir pekan teman-teman, jangan lupa bahagia ya :D     

Minggu, 03 April 2016

Ibuku

Ibu,
Jika diminta menuliskan apa saja tentang ibu, yang terjadi awalnya adalah air mata berlinang di pipi (seperti saat ini). Alhamdulillah, hingga tulisan ini ku publish, ibuku masih sehat wal afiat, masih diberikan kekuatan oleh Allah dan Insya Allah tetap dalam naungan Allah, amiiinnn... Tangisku ini menggambarkan betapa ku bersyukur terlahir dari rahimnya dan tentu saja karena ku sangat merindukannya. Telpon hanya menjadi penenang sementara dikala rindu mendera. Ibarat obat, dia hanya penghilang gejala tetapi tidak mengobati penyakitnya.

Ibu,
Ibuku tipikal IRT biasa, yang kesibukannya sehari-hari hanya seputar rumah. Bangun subuh untuk mendoakan kesuksesan suami dan anak-anaknya sekaligus menyiapkan sarapan dan bekal untuk mereka. Paginya beliau siaga 1 menunggu mas sayur dan daeng ikan. Ibuku siap memulai tawar-menawar dengan mereka agar uang bulanan yang ayah berikan bisa cukup untuk keperluan sebulan ini. Sambil menunggu, sapu tak pernah lepas dari tangannya, dibersihkannya dedaunan yang mengotori halaman, ditata bunga-bunga kesayangannya agar tampak apik, dan sesekali bercerita dengan tetangga sebelah tentang harga sembako yang merangkak naik. 

Ibu,
Ibuku juga penggemar infotainment dan utaran (yang saat ini sedang booming). Saat siang tiba dan semua masakannya telah siap, beliau mengistirahatkan raganya dengan tontonan yang ia sukai. Tentunya sambil menunggu suaminya pulang untuk makan siang di rumah dan anak bungsunya yang pulang dari sekolah. Ketika mereka datang, ibuku bangkit kembali dari istirahatnya, menuju meja makan dan menghidangkan semua masakannya. Sambil menanyai apa saja yang anak bungsu mereka lakukan di sekolah tadi. Kadang omelan serta merta ia keluarkan ketika mengetahui anak bungsunya telah sangat nakal di sekolah hari ini. Dan suaminya hanya tertawa mendengarnya. Itulah ayah, sosok malaikat ketika sang anak kena omelan ibu.

Ibu,
Ibuku juga tidur siang. Tapi tak pernah lelap, karena selalu saja kami anak-anaknya berteriak ketika pulang ke rumah pada siang menjelang sore. "Ibu.. Ibu.." begitu panggil kami. Padahal kami telah hafal pada jam seperti itu, ibu pasti ada di ruang tengah sambil rebahan, memegang remot, dan tak jarang tertidur. Namun tetap saja, ketika pulang dan tak menyebut kata Ibu, ada saja yang kurang menurutku. Apalagi ketika makanan di meja tak sesuai harapan. Muka cemberut tanpa sadar ku keluarkan dan berusaha bertanya kepada ibu yang setengah terlelap apakah ada makanan lainnya atau mungkin bisakah saya minta uang saja untuk jajan di luar (astaghfirullah, mengingatnya membuatku malu dan merasa sangat berdosa kepada ibu). Ibuku tentu saja kesal melihatku seperti itu. Biasanya dia hanya memberiku tatapan merahnya, kemudiam kembali melanjutkan tidur. Kalau sudah seperti itu, kami tahu apa yang harus dilakuan, segera makan apa yang ada daripada kelaparan. Atau kalau stok mie instan dan telur masih ada, berkreasilah sesukamu. Yang jelas ibu sedang capek. Itulah arti tatapan merah ibu buatku.

Ibu,
Ibuku tak pernah terlambat menyiapkan makan malam. Saat menjelang maghrib, semua persiapan yang dibutuhkan telah ada. Nasipun telah matang. Dan ba'da maghrib, semuanya beliau eksekusi. Kami makan malam dengan sangat teratur, setelah Isya. Suara cempreng ibuku sering kali menjadi alarm untuk mengumpulkan kami di meja makan. Jarang semuanya lengkap. Adik keduaku yang saat ini mahasiswa tingkat tiga, lebih sering melewati waktu makan malam bersama. Maklum pada masa-masa itu berkumpul dengan temanlah yang menjadi prioritas. Saya sudah melewati masa itu. Ingin sekali kuberitahu adikku, bahwa dia akan menyesalinya nanti saat sudah jauh seperti saya sekarang ini. Betapa ku merindukan masa-masa itu.

Ibu,
Tak berhenti hanya sampai menyiapkan makan malam saja, beliau masih harus mengajarkan si anak bungsu perihal baca, tulis, hitung. Hal sepele sebenarnya, namun jika yang diajari adalah anak seaktif adikku, yakin saja, dibutuhkan tenaga ekstra. Bisa saja ibu minta tolong kepada anak-anaknya untuk mebantu si adik belajar. Namun kadangkala anak itu tak mau mendengar jika bukan ibu yang menanganinya dan tidak bisa dipungkiri kakak-kakanya punya sejuta urusan dan alasan untuk menghindar serta tidak punya kesabaran ekstra seperti yang dimiliki ibuku.

Ibu,
Terkadang meskipun jam sudah menjukkan  tengah malam, matanya belum juga terlelap. Sambil mencoba menikmati acara TV dan dengan handphone ditangan sambil sesekali mengecek dimana keberadaan adik keduaku saat itu. Sebagai mahasiswa aktif dan pintar, adikku itu acap kali mengadakan belajar kelompok, dan tak tanggung-tanggung jam pulangnya tengah malam. Terkadang juga nginap. Itulah yang menyebabkan ibuku tak bisa tertidur meski matanya menunjukkan sebaliknya. Beliau baru akan tidur setelah memastikan apakah anaknya akan pulang atau tidak malam itu. Dan setelah yakin jika pagar dan pintu rumah telah terkunci semuanya.

Itulah ibuku dengan kesibukannya. Pekerjaannya tak anggun. Tak menghasilkan uang secara langsung. Tapi pengabdiannya pada keluarga telah mencetak suami sekaligus ayah yang bisa dibanggakam anak-anaknya dan anak yang Insya Allah sedang berjuang untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ibuku sekolahnya tak tinggi (tamatan S1, itupun beliau jalani ketika yakin anak-anak dan suaminya bisa mandiri ketika ditinggal kuliah beberapa jam, waktu itu saya sudah kelas 3 SMA). Sebetulnya ibuku hanya tamatan SMA, tapi karena semangat juangnya tinggi, beliau tetap ingin lanjut walau usia sudah tak muda lagi kala itu untuk ukuran mahasiswa S1. Tapi... kami bangga dan sangat bahagia melihat ibu bisa memakai Toga (pakaian wisuda) yang ia impikan dulu, namun harus sedikit lama tertunda karena pengabdiannya untuk keluarganya.

Ibuku pahlawanku,
Ibuku panutanku,
Ibuku guruku,
Ibuku sahabatku,
Ibuku syurgaku (Insya Allah)

Insya Allah, semoga kelak ayah, ibu, ela, epit, lala, izaz, bisa berkumpul di Jannahnya Allah. Tanpa kurang seorangpun. Semoga kami anak-anak mereka tidak menjadi penghalang masuknya mereka ke Syurga. Semoga ayah ibu dan adik-adikku selalu sehat disana. Semoga keluarga kami selalu dalam lindunganMu Ya Allah, aamiiinnn...



Bandung, 3 April 2016

Si Sulung,
Yang tak hentinya merindu


Jumat, 01 April 2016

Bersyukur Ketika Masalah Datang

Ketika ingin menulis ini, tak ada niatan jelek terselip di dalamnya Insya Allah. Semuanya saya tulis dan bagikan di sini agar ketika ada teman2 yang sedang mengalami hal serupa, bisa saya tularkan sedikit apa yang telah saya lalui dan rasakan. Insya Allah membantu...

Bismillahirrohmanirrohim,

Setiap yang hidup, setiap yang bernyawa, setiap yang masih diberikan kesempatan untuk tinggal di buminya Allah pasti tak akan luput dari yang namanya ujian. Mungkin kita sering menyebutnya sebagai "Masalah", begitupun saya dulu, tetapi ketahuilah itu sebagai bentuk rasa sayangnya Allah kepada hamba-hambaNya. 

Berbahagialah ketika ditimpa sebuah masalah,

Kenapa?

Karena ketika masalah itu datang karena dosa-dosa dan kesalahan kita, ketahuilah bahwa lewat masalah itu Allah sedang menegur kita lewat caraNya. Mungkin sebagian akan berpikir "apakah itu berarti Allah telah murka kepada kita?". 

Tidak, jawaban yang saya yakini adalah Allah menegur kita sebagai bentuk peduliNya, sebagai bentuk kasih sayangNya. Allah ingin memberi tahu lewat masalah ini bahwa kesalahan yang telah kita lakukan membuat kita jauh terhadap Dia. Allah ingin kembali mengingatkan bahwa jalan yang kita tempuh salah. Allah menghentikan langkah kita lewat sebuah masalah, agar kita tidak jauh tersesat ke depan dan tahu jalan untuk kembali. Jalan untuk kembali meminta ampunannya atas apa yang telah kita lakukan. Allah kembali membimbing kita, tenang teman2, Allah tidak akan membiarkan kita sendirian menghadapinya. 

Lewat masalah, sesungguhnya nikmat yang Allah kucurkan sangat banyak, asal kita mau berpikir sejenak. Pertama, kapan terakhir kita merasakan sujud yang begitu nikmat? Ya, ketika kita ditimpa masalah. Kedua, kapan terakhir kita meminta dengan penuh rasa pengharapan? Tentu saat sedang ada masalah. Ketiga, kapan terakhir kali kita menangis tergugu sambil mengingat dosa-dosa kita? Tentu saja ketika masalah menghampiri. Lalu, dimana letak nikmatnya? (mungkin ada yang bertanya seperti itu). Ketahuilah teman, semua yang saya sebutkan tadi tidak akan dirasakan oleh orang yang hidupnya biasa saja tanpa masalah.

Lewat masalah, Allah kembali mengingatkan kita tentang hakikat meminta dan berharap. Mungkin semasa tak ada masalah, bisa dihitung dalam sehari berapa kali kita mengingat Allah. Dalam sebulan adakah sekian kali kita mengharapkan pengampunan Allah jika tak ada masalah. Ketahuilah, Allah mendatangkan sebuah masalah agar kita kembali meminta kepadanya. Agar kita kembali hanya berharap kepadanya. Agar sujud kita lebih khusyu'. Allah ingin kita lebih dekat dengan dengannya. Allah ingin menunjukkan kepada kita yang sedang tersesat bahwa Dialah Sang Pengatur, maka mintalah sesuatu padanya, bukan malah berharap kepada makhluknya.

Lalu, masihkah kita menganggap masalah itu sebuah beban dan bentuk marahnya Allah kepada kita?

Tidak teman (Insya Allah saya tetap merasakan apa yang telah saya tuliskan sebelumnya). Apalagi ada ganjaran besar di ujung sana tentang kenaikan derajat dimata Allah bagi orang-orang yang ikhlas dan sabar menjalani masalahnya.

Maka bersyukurlah ketika sedang diuji oleh Allah,
Alhamdulillah :)

Oh iya, this picture describes what i feel now (curcol hihihi)
   
(Bukti bahwa Allah masih menyayangiku) 
          

Sabtu, 26 Maret 2016

Elektroforesis part I

Sejarah Elektroforesis
Menurut sejarah, pada awal abad ke-19, percobaan elektroforesis dalam pipa kaca dilaporkan sebagai awal mula penggunaan elektroforesis. Sebelum munculnya lempengan gel, pada awal abad ke-20 elektroforesis dilakukan dalam larutan bebas. Pada pertengahan tahun 1930-an, ahli kimia swedia Arne Tiselius menerapkan teknik eletroforesis untuk analisis protein serum, yang mengantarkan ia menerima hadiah Nobel. Pada tahun 1940an telah digunakan peralatan yang dilengkapi dengan Schlieren Optics untuk memvisualisasikan pemisahan asam nukleat. Semenjak struktur DNA dobel heliks dipublikasikan, elektroforesis menjadi sebuah standar, alat analisis yang sangat diperlukan dalam biokimia modern dan biologi molekular. Prosedur elektroforesis digunakan hampir pada setiap aspek dasar ataupun aplikasi penelitian biomedik dan klinik. 


Definisi
Elektroforesis adalah teknik pemisahan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya. Elektroforesis juga disebut sebagai teknik pemisahan analit bermuatan di bawah pengaruh medan listrik. Dengan demikian, elektroforesis dapat didefinisikan sebagai teknik yang digunakan untuk memisahkan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya dalam sebuah medan listrik. Sebuah arus listrik dilewatkan melalui medium yang mengandung sampel yang akan dipisahkan. Teknik ini dapat digunakan dengan memanfaatkan muatan listrik yang ada pada makromolekul, misalnya DNA yang bermuatan negatif. Jika molekul yang bermuatan negatif dilewatkan melalui suatu medium, maka molekul tersebut akan bergerak dari muatan negatif menuju muatan positif. Kecepatan gerak molekul tersebut tergantung pada rasio muatan terhadap massanya dan bentuk molekulnya. 

Elektroforesis digunakan dengan tujuan untuk mengetahui ukuran dan bentuk suatu partikel baik DNA, RNA dan protein.  Selain itu, elektroforesis juga digunakan untuk fraksinasi yang dapat digunakan untuk mengisolasi masing-masing komponen dari campurannya, mempelajari fitogenetika, kekerabatan dan mempelajari penyakit yang diturunkan. Elektroforesis dalam bidang genetika, digunakan untuk mengetahui ukuran dan jumlah basa yang dikandung suatu sekuen DNA tertentu. Elektroforesis dapat dibagi menjadi tiga yaitu elektroforesis kertas, elektroforesis gel, dan elektroforesis kapiler.