Jumat, 26 Februari 2016

You can call me c.r.a.z.y!

Malam yang mendebarkan, bagaimana tidak, pukul 22.00 baru selesai ngelab! Bagi mba ika dan rahmat, pulang jam segitu artinya masih sore. What? tapi tidak buatku. Dan ini bukan di Kendari, tempatku tumbuh besar. Ini Bandung, kota yang baru setahun belakangan ini kutempati. Tapi sebetulnya sama saja sih, mau dimanapun, jika anak gadis keluyuran SENDIRIAN jam 10 malam ke atas, tetap saja BERBAHAYA.

Jadi, penghuni terakhir Lab. gene hari ini adalah saya, andre, dan mita. Alasannya klise sih, karena pekerjaan hari ini sama sekali tidak direncanakan dengan matang, akhirnya didetik-detik akhir barulah diketahui jika ada media yang terkontaminasi (kenapa harus yang terakhir coba *sad face), ya alhasil harus mulai dari mencairkan media lagi, menunggunya dingin, kemudian plating, lalu tunggu mengeras, baru bisa dispread, dan sebetulnya nyepread juga membutuhkan waktu yang lumayan lama karena diusahakan sekesat mungkin. Sebetulnya waktu kepulangan bisa sedikit direduksi jika..., jika laminar di Lab. gene ditambah satu lagi, tapi sudahlah, itu harapan yang impossible.

Beres ngelab jam 10, jalan keluar ITB sekitar 15 menit, menunggu angkot kalapa-dago 5 menit, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.20 WIB. Disinilah awal kesalahanku. Seperti biasa jika pulang ke kosan diatas pukul 20.00, saya memilih rute angkot yang berbeda karena angkot yang biasanya sudah tidak ada pada jam segitu. Angkot kalapa-dago dengan arah kalapa menjadi pilihan kemudian disambung angkot caringin-dago. Menuju simpang dengan tulisan DAGO dari arah ganesha pada dasarnya tidak membutuhkan waktu lama (sekitar 5 menit), begitupun yang terjadi malam ini. Hanya saja saya tidak menyadari jika ternyata angkot selanjutnya yang akan saya tumpangi (caringin-dago) sudah tidak ada pada jam segitu. OMG! Kenapa saya bilang tadi jika itu awal kesalahan saya karena saya bisa naik angkot kalapa-dago tetapi yang mengarah ke simpang dago (bukan simpang yang ada tulisan DAGO ya..., ini arah sebaliknya) kemudian melanjutkan perjalanan ke kosan dengan angkot cicaheum-ciroyom, karena angkot ini absolutely ada 24 jam. Jadi, karena saya sudah terlanjur berada di arah sebaliknya sambil menunggu angkot caringin-dago yang siapa tau ada, akhirnya bermenit-menit saya lewatkan dengan penuh rasa was-was. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.45.

"Ah, sudahlah, saya tunggunya sampai lampu merah ini berubah jadi hijau, jika angkot caringin-dago belum muncul juga, terpaksa jalan kaki" batinku sambil diiringi rasa cemas yang tak kunjung usai. Pasalnya di tempat tunggu tersebut, nongkronglah anak geng motor yang sedari tadi melihatiku. Dan saya hanya bisa berdoa dalam hati semoga mereka anak baik-baik, rajin solat, mengaji, menabung *eh. Intinya semoga mereka tidak punya niat jahat terhadapku dan yang terpenting semoga angkot caringin-dago a.k.a angkot orange segera muncul. Tapi harapan yang kedua mustahil. Sudah hampir jam 11 soalnya. Baiklah kuputuskan jalan kaki sampai menemukan angkot cicaheum-ciroyom yang akan melewati jalan surapati, begitu awalnya. Oh iya, sekedar kembali mengingatkan  jikalau saya sendiri (bisi ada pitnah).

Lama berjalan, angkot yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal saya sudah berjalan sampai ke rute yang seharusnya angkot tersebut lewat. "Apa iya harus jalan sampai kosan?" Sebetulnya dari lampu lalu lintas gazibu menuju kosan sudah terbilang dekat untuk ukuran pejalan kaki sejati sepertiku. Tapi ini malam, dan malamnya bukan jam 7, 8, saat pejalan kaki lainnya masih berhamburan. Well, ini sudah hampir tengah malam. Tahu sendiri kan saat gelap, hal yang tidak menakutkanpun terasa menyeramkan. Bukan takut akan hal-hal yang tidak bisa dinalar sih, saya lebih was-was jika ada orang yang sebetulnya tidak punya niat jahat tetapi ketika melihat kesempatan langsung timbul niatan tidak baik tersebut. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki dengan tetap berdoa, memohon kepada sang pemilik kehidupan agar saya diselamatkan malam ini. Hal menyebalkannya, angkot cicaheum-ciroyom lewat saat saya sudah berada di depan jalan puter. Sekedar info, saat sudah memasuki jalan puter, itu artinya saya tidak bisa naik angkot lagi untuk sampai ke jalan caladi tempat kosanku berada karena merupakan jalanan sempit yang tidak didesain untuk rute angkot. Anak yang ngekos di sekitaran puter pasti tahulah apa yang saya rasakan beberapa jam yang lalu.

Memasuki jalan puter, rasanya aneh, gelap, bunyi jangrikpun terdengar menyeramkan. Bahkan sayapun cukup kaget dan tersentak ketika ada bapak-bapak yang muncul tiba-tiba dari sebuah warung kecil. Seolah-olah seperti disergap, akhirnya langkahkupun ku percepat sambil sesekali menoleh ke belakang dengan harapan bapak-bapak tadi tidak mengikutiku. Perasaan baru agak tenang ketika sampai ke ujung lapangan tempat warung-warung makan berjejer, alhamdulillah masih ada satu dua orang yang nongkrong disana. Tapi itu tidak bertahan lama sih, ketika memasuki jalan caladi, gelap kembali menyelimuti. Semua doa yang terngiang kuucapkan sambil mempercepat langkah dan sesekali menengok ke belakang. Pukul 11.20an saya sampai di kosan, Jl. Caladi No. 50. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, masih dikasih keselamatan malam ini. Syukur yang tak terhingga, semuanya baik-baik saja.

Oh ya, ini foto yang saya ambil untuk mengabadikan moment ini, dicapture ditengah kebimbangan akan jalan kaki atau tidak.
Sleep well, 
see you :*

   

     

Minggu, 21 Februari 2016

Rain

Ketika hujan datang menawarkan kenangan
Saat itu kembali ku termenung, apakah semua ini sudah pada tempatnya?
"Ah, sudahlah, toh semua orang berdiri di atas kakinya sendiri"
Kalimat pembenaran yang selalu terlontar di tengah badai yang bergejolak
yang artinya kurang lebih seperti ini: ini loh aku, yang nantinya bisa sukses sendiri, besar sendiri, tolong tidak usah repot-repot mengurus masalahku, urus saja masalahmu!
Tapi...
Semakin sering kalimat itu terlontar, semakin sadarlah diriku
I'm Alone! What can i do?
Entahlah, hujan malam ini tak menawarkan solusi
Ia hanya membawa kenangan, tapi tidak air mata...

p.s
I miss you :*

###

Bandung, 21 Februari 2016   

Selasa, 16 Februari 2016

Return of Dreammer

Hai.. Hai..
Tahun berapa ini? 2016!
Wow, ga kerasa udah 2 tahun ga nge-blog, soalnya postingan terakhir adalah maret 2014, yups 2 tahun silam..
Apa yang terjadi selama ini? Buanyaaak wkwkwk >_<

1. Penelitian yang jungkir-balik demi sebuah skripsi (topik: isolasi metabolit sekunder)
2. November 2014 alhamdulillah lulus dari UHO sbg bachelor of pharmacy (S.Farm) dengan nilai yg ga malu-maluin ortu
3. Masih di November 2014, dapat kesempatan untuk ikut tes masuk pasca sarjana farmasi di ITB (yg ini sempat galau, antara mau daftar apt dulu atau S2 dulu, ternyata Allah punya jalannya)
4. Desember 2014, dinyatakan diterima sbg mahasiswa S2 farmasi ITB
5. Januari 2015, kuliah perdana (kuliah lagi) --> Semester 1
6. Agustus 2015 --> Masuk Semester 2 --> disini udah mulai nongkrong di Lab, meskipun asli masih random tentang apa yg akan dikerjakan
7. Januari 2016 --> Masuk Semester 3 --> yg ini benar2 nge-lab (alhamdulillah udah ada sedikit bayangan), dan di fase inilah saya sekarang ^^

Then, sekarang keinginan untuk nge-blog ada lagi. Ini sebetulnya muncul ga sengaja sih, cuma terpicu oleh kata2 seorang sobat (sebut saja namanya Nia) yang menanyakan kalau saya masih suka nulis di blog ga? yaaa tiba2 sj keinginan ini muncul. Semoga bertahan lama yaaa, semoga aktivitas dunia nyata tidak menghambat eksistensi di dunia maya (kebalik woyyy wkwkwk). O ya, pemicu berikutnya sih karena saya tau dan sadar banyak teman2ku yg udh ga nge-blog atau mungkin ga punya blog, jadi mungkin saya bisa sedikit lebih mengekspresikan (ceilehhh) apa yg ga bisa saya tunjukkan di medsos2 saya lainnya, tanpa takut dihujat ataupun dihakimi sepihak.

Sekian..
Keep blogging guys :D