Sabtu, 26 Maret 2016

Elektroforesis part I

Sejarah Elektroforesis
Menurut sejarah, pada awal abad ke-19, percobaan elektroforesis dalam pipa kaca dilaporkan sebagai awal mula penggunaan elektroforesis. Sebelum munculnya lempengan gel, pada awal abad ke-20 elektroforesis dilakukan dalam larutan bebas. Pada pertengahan tahun 1930-an, ahli kimia swedia Arne Tiselius menerapkan teknik eletroforesis untuk analisis protein serum, yang mengantarkan ia menerima hadiah Nobel. Pada tahun 1940an telah digunakan peralatan yang dilengkapi dengan Schlieren Optics untuk memvisualisasikan pemisahan asam nukleat. Semenjak struktur DNA dobel heliks dipublikasikan, elektroforesis menjadi sebuah standar, alat analisis yang sangat diperlukan dalam biokimia modern dan biologi molekular. Prosedur elektroforesis digunakan hampir pada setiap aspek dasar ataupun aplikasi penelitian biomedik dan klinik. 


Definisi
Elektroforesis adalah teknik pemisahan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya. Elektroforesis juga disebut sebagai teknik pemisahan analit bermuatan di bawah pengaruh medan listrik. Dengan demikian, elektroforesis dapat didefinisikan sebagai teknik yang digunakan untuk memisahkan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya dalam sebuah medan listrik. Sebuah arus listrik dilewatkan melalui medium yang mengandung sampel yang akan dipisahkan. Teknik ini dapat digunakan dengan memanfaatkan muatan listrik yang ada pada makromolekul, misalnya DNA yang bermuatan negatif. Jika molekul yang bermuatan negatif dilewatkan melalui suatu medium, maka molekul tersebut akan bergerak dari muatan negatif menuju muatan positif. Kecepatan gerak molekul tersebut tergantung pada rasio muatan terhadap massanya dan bentuk molekulnya. 

Elektroforesis digunakan dengan tujuan untuk mengetahui ukuran dan bentuk suatu partikel baik DNA, RNA dan protein.  Selain itu, elektroforesis juga digunakan untuk fraksinasi yang dapat digunakan untuk mengisolasi masing-masing komponen dari campurannya, mempelajari fitogenetika, kekerabatan dan mempelajari penyakit yang diturunkan. Elektroforesis dalam bidang genetika, digunakan untuk mengetahui ukuran dan jumlah basa yang dikandung suatu sekuen DNA tertentu. Elektroforesis dapat dibagi menjadi tiga yaitu elektroforesis kertas, elektroforesis gel, dan elektroforesis kapiler.

   
  

Jumat, 25 Maret 2016

Kumarin part IV (Final)


Ciri-ciri senyawa kumarin

Ciri spektrum RMI proton

Pada spektrum RMI proton, H-3 dan H-4 memberikan karakteristik pergeseran kimia yang berbeda-beda sehingga bisa digunakan untuk membedakan tiap jenis kumarin.
Turunan kumarin
H3-δ (ppm)
H4δ (ppm)
J (Hz)
Kumarin
6,1-6,4
7,5-7,9
9,5
5-oksigenasi
6,1-6,4
7,9-8,2
9,5
7-oksigenasi
6,2-6,5
7,6-7,8
9,5
8-tersubtitusi
6,6-6,9
7,1-7,5
8,5
5,7-terdisubtitusi
6,7
6,7
2,5
6-tersubtitusi
6,7-7,2
7,5-7,7
2,5
Furanokumarin angular
7,5-7,7
6,7-7,2
2,5

 Ciri lainnya, geseran kimia pada:
ü  6,0-8,5 ppm menggambarkan proton pada cincin aromatik
ü  2,5-6,0 ppm daerah metoksi
ü  0,5-2,5 ppm merupakan metil, rantai samping isopren


Ciri spektroskopi massa

Pengukuran dengan Elektron Impact menunjukkan bahwa kumarin memberikan puncak ion molekul kuat (M+) pada m/z 146 (76%) dan puncak dasar pada m/z 118 (100%), karena lepasnya CO.

7-hidroksi kumarin menunjukkan ion molekul kuat (M+) pada m/z 162 (80%) dan puncak dasar pada m/z134 karena kehilangan karbon monoksida (CO).

Jadi, ciri khas dari spektrum ms senyawa kumarin adalah lepasnya C=O pada cincin piron sehingga M+ dan puncak dasar mempunyai selisih 28 massa (C = 12 dan O = 16). 

Kumarin part III

Ciri-ciri senyawa kumarin

Spektrum IR
  • Getar renggang C=O
    • Stretching karbonil (α-piron) muncul pada daerah 1700-1750 cm-1 (lebih besar dari kromon/ γ-piron yang nilainya ~1650 cm-1). Jika dalam CCl4 muncul pada daerah 1742-1748 cm-1, dan 1735-1737 cm-1 dalam CHCl3.
  • Getar renggang C-H
    • 2-3 pita yang kekuatannya lemah-medium muncul pada bilangan gelombang 3025-3175 cm-1 pada spektrum furanokumarin. Serapan ini disebabkan getar renggang C-H pada cincin piron, benzen, dan furan.
  • Getar kerangka C=C
    • Umumnya terdapat 3 pita serapan kuat pada daerah 1600-1660 cm-1. Sedangkan kromon polanya lebih sederhana.
    • Pada furanokumarin, pita tersebut muncul pada bilangan gelombang 1613-1639 cm-1 (menggambarkan stretching cincin furan).
    • Psoralen tersubtitusi pada C5 dan C8, muncul serapan khas pada bilangan gelombang 1550-1625 cm-1.
    • Kumarin lainnya menunjukkan serapan dengan intensitas menengah pada bilangan gelombang 1500-1515 cm-1.
  • Serapan lainnya
    • 2 pita ditemukan pada bilangan gelombang 1088-1109 dan 1255-1274 cm-1 pada spektrum furanokumarin merupakan ciri khas getar renggang C-O untuk cincin furan.
    • Furanokumarin juga menghasilkan pita pada bilangan gelombang 740-760 cm-1 dn 870-885 cm-1 yang menggambarkan ikatan C-H cincin furan.
    • Membedakan 2 isomer yaitu antara 2-hidroksiisopropil-dihidrofuran (senyawa 1) dan 3’-hidroksi-2’,2’-dimetildihidropiran (senyawa 2) bisa dengan spektrum IR. Serapan senyawa 1 muncul pada bilangan gelombang 1400-1494 cm-1 karena deformasi OH alkohol tersier dan regang C=O. Serapan senyawa 2 muncul pada bilangan gelombang 1295 cm-1 karena deformasi OH alkohol sekunder dan regang C=O pada 1090 cm-1

Selasa, 15 Maret 2016

Kumarin part II


Ciri-ciri senyawa kumarin

ciri spektrum UV
·  Spektrum UV biasanya digunakan untuk membedakan antara kumarin (α-piron) dan kromon (γ-piron). Kromon memiliki serapan kuat pada 240-250 nm sedangkan kumarin menunjukkan serapan minimum pada panjang gelombang tersebut.
·      Kumarin memiliki struktur α-piron, serapan ~300 nm.
·  Inti kumarin (kumarin yang belum tersubtitusi) menunjukkan serapan pada panjang gelombang 274 nm (cincin benzen) dan 311 nm (cincin piron).

Kumarin Alkil
  • Penambahan gugus metil pada inti kumarin menghasilkan pergeseran panjang gelombang yang sangat kecil.
  • Subtitusi gugus metil pada C-3 menghasilkan pergeseran hipsokromik yang sangat kecil pada panjang gelombang 311 nm, sedangkan  panjang gelombang 274 nm sama sekali tidak berubah.
  • Subtitusi metil pada C5, C7, atau C8 menyebabkan pergeseran batokromik pada panjang gelombang 274 nm, sedangkan panjang gelombang 311 nm tidak berubah. Hal yang sama berlaku pada gugus alkil dengan rantai yang lebih panjang dan tidak memiliki kromofor, keberadaannya pada inti kumarin tidak memberikan perubahan yang signifikan.


Kumarin Teroksigenasi
  • Penambahan gugus hidroksil pada inti kumarin menyebabkan pergeseran batokromik dengan nilai pergeseran tergantung dari kemampuan gugus hidroksil tersebut untuk berkonjugasi dengan sistem kromofor.
  • 7-hidroksi kumarin (umebeliferon) menunjukkan serapan yang kuat pada panjang gelombang sekitar 217 nm dan 315-330 nm, terdapat bahu pada panjang gelombang 240 dan 255 nm. 7-hidroksikumarin, 7-metoksikumarin, dan 7-β-D-glukosiloksikumarin memiliki spektrum UV yang terlihat sama.
  • 5,7-dioksigenasi kumarin dan 7,8-dioksigenasi kumarin memiliki spektrum UV yang serupa dan mirip dengan 7-oksigenasi kumarin kecuali serapan pada 250 dan 270 nm yang sedikit lebih intens.
  • 6,7-dioksigenasi kumarin dapat dibedakan dari 5,7 dan 7,8-dioksigenasi kumarin karena memiliki 2 pita terkuat pada panjang gelombang 230 nm dan 340-350 nm serta 2 pita yang intensitasnya hampir sama muncul pada panjang gelombang 260 nm dan 360 nm.
  • Trioksigenasi kumarin: 6,7,8 trioksigenasi kumarin, panjang gelombang maksimumnya 335-350 nm (mirip 6,7 dioksigenasi kumarin) dan 5,6,7 trioksigenasi kumarin memiliki panjang gelombang 225-330 nm (mirip 5,7-dioksigenasi kumarin).  


Senin, 14 Maret 2016

Kumarin part I

Ciri-ciri senyawa kumarin

Ciri kromatografi
·      Kumarin berfluoresensi bila disinari UV pada panjang gelombang 365 nm. Fluoresensi ini bisa dengan mudah dideteksi menggunakan kromatografi kertas (KKt) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Dengan jumlah senyawa yang sedikit bisa memberikan fluoresensi yang kuat. Sehingga, pada dasarnya deteksi kumarin bisa dengan mudah dilakukan tanpa pereaksi kromogenat, karena tiap kelompok mungkin untuk dibedakan berdasarkan warna flluoresensinya. Contoh:
ü  Furanokumarin menghasilkan fluoresensi kuning kusam      
ü  Psoralen dan 6-metoksiangelicin memberikan fluoresensi biru
ü  Angelicin berfluoresensi ungu

· Jika kromatogram diuapkan dengan NH3 dan fluoresensinya menjadi lebih kuat, menunjukkan adanya senyawa fenol.

·    Warna furanokumarin bisa diperkuat dengan AlCl3 5% dalam metanol atau SbCl3 20% dalam kloroform.

·  Kumarin yang teroksigenasi pada posisi 7 bisa berfluoresensi dalam cahaya biasa, terutama jika dilarutkan dalam H2SO4 pekat. Jika berada dalam larutan basa memberikan fluoresensi hijau kuat dan kemudian fluoresensinya menghilang, hal ini menadakan adanya OH pada karbon nomor 7.

·  Jika menggunakan KKt, kumarin bisa terpisah dengan menggunakan eluen berikut:
ü  BAW (4:1:5)
ü  Amil alkohol-asam asetat-air (4:1:5)
ü  Toluen-asam asetat-air (4:1:5)
Deteksinya menggunakan sinar UV, dilakukan sebelum dan sesudah diuapi NH3.

· Jika menggunakan KLT, untuk memisahkan kumarin bisa menggunakan silika gel atau silika gel-selulosa dengan eluen:
ü  Toluen-etil format-asam format (5:4:1)
ü  Kloroform-asam asetat- air (4:1:1)
ü  Heksan-etil asetat (3:1)
Furanokumarin bukan fenol biasanya sulit untuk dipisahkan dengan KLT adsorpsi.

When a novel ends

Seperti judul tulisan di atas, saya akan sedikit membagikan apa sih yang dirasakan seorang pembaca (novel addict) ketika novel yang sedang dibacanya sudah mendekati bab akhir. Check it out!

1. Deg-degan, apalagi jika penulis menawarkan alur cerita yang sulit untuk ditebak. Banyak novel yang memberikan efek seperti ini menurutku, tapi yang paling berkesan adalah saat baca sekuel novel "Eifel, Tolong!" karya Clio Freya.

2. Penasaran yang berlebihan, itulah mengapa jika mendekati bab akhir, tangan seperti tak bisa direm untuk membalik halaman selanjutnya. Dan ini juga berdampak ke kacaunya jam tidur jika novel tersebut baru mulai dibaca pada jam 9 malam! 

3. Sedih, ya terus terang saya sedih sekali jika suatu novel akan berakhir. Itu artinya saya harus berpisah dengan tokoh-tokohnya, baik tokoh utama maupun tokoh pembantu. Apalagi jika novelnya menawarkan cerita persahabatan super seru dan romantis. Seperti yang terjadi saat ini, jujur saya baru tertarik baca novel "Negeri van Oranje" ketika filmnya booming. Awalnya penasaran seperti apa ceritanya kok bisa sampai nge-hits banget ya... Dengan modal minjem novel Mba Diyah, rasa penasaranku terjawab. Dan akhirnya here I am, jatuh cinta tanpa alasan pada tokoh Lintang, Daus, Wicak, Banjar, dan Gerry, serta kisah persahabatan mereka, dan tentunya kisah trip-nya yang ajaib! 

Dan novel ini mengajarkan:
"Persahabatan yang 'keren' tak perlu embel-embel seberapa lama kalian mengenal, seberapa intens kalian bertemu, seberapa banyak persamaan kalian, asalkan... kejujuran itu ada, saling menerima kekurangan sahabatnya, dan tentunya bisa waras dan gila bersama pada tempat dan waktunya" 

Makasih Mba Diyah atas pinjaman novelnya >_<   

4. Sulit move on, salah satu bentuknya dengan menulis, bisa tentang review novelnya, ataupun berupa tulisan kegundahan seperti ini. Entah apa namanya yang jelas nyesek! Mungkin karena ceritanya yang sudah habis (even itu berakhirnya dengan happy ataupun sad ending). Efek seperti ini akan bertambah parah jika akhirnya adalah sad ending.

5. Nangis bombay. Well, yang satu ini agak terdengar lebay sih, but it's true! Tapi ini khusus jika diakhir cerita tokoh utamanya meninggal dan menyebabkan pasangannya harus menjalani sisa kisah yang digariskan oleh penulis, seorang diri, sambil kenangan-kenangan terdahulu diputar kembali. Ini terjadi saat saya membaca novel "Autumn in Paris" karya Ilana Tan. Kenapa takdir antara Tara Dupont dan Tatsuya begitu menyedihkan? (sebetulnya yang saya maksud adalah kata yang lebih wow dari menyedihkan). Ya, saat mereka bertemu di benua yang bukan asal negara mereka, seperti biasa mulai dekat dan jatuh cinta, tetapi ternyata mereka saudara se-ayah. Tak cukup dengan itu, Ilana Tan kembali membuatku terkoyak dengan kepulangan Tatsuya ke Jepang yang mendadak (tanpa pamit pada Tara) dan berakhir dengan kematiannya akibat kecelakaan di area konstruksi (Tatsuya adalah arsitek). Tangisan bertambah deras saat surat peninggalan Tatsuya dibaca oleh Tara. Oh, God! Surat itu menggambarkan betapa ia mencintai wanita yang tidak mungkin ia miliki.

6. Seperti tidak mau kembali ke dunia nyata. Andai bisa, sebetulnya saya ingin (baca: ingiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin sekali) masuk jadi salah satu tokoh dalam novel-novel yang pernah saya baca. Tak apa deh cuma jadi tukang sapunya yang kebetulan ditanyai arah jalan sama tokoh utamanya hehehe. Tapi, itu cuma pikiran sesaat sih. Semenarik apapun suatu novel itu cuma sebuah kisah yang ditulis apik oleh penulisnya. Tidak perlu berkecil hati, kehidupan yang sedang manusia jalani ini merupakan 'novel' yang digariskan oleh Sang Pencipta, tinggal bagaimana kita memaknainya dan menjalankannya. Keep spirit!!!

p.s
efek-efek di atas berlaku juga saat nonton drama korea wkwkwk :p