Selasa, 19 April 2016

Cerita Artomoro

Rintik hujan perlahan turun ketika ku memasuki Jl. Puter. Dinginnya hembusan angin membuatku sedikit merapatkan long coat hitam yang saat itu sedang ku pakai. Jarak antara titik pemberhentian angkot dan warung makan yang hendak kutuju tidaklah terlalu jauh, jadi ku urungkan niat untuk sekedar mengeluarkan payung dari dalam tas merahku. Toh hujannya tidak deras-deras amat pikirku saat itu. 

Aku kembali menyambangi warung kenangan, yang sebetulnya tidak ingin ku datangi lagi. Tapi apa daya, keramahan bapak dan ibu pemiliknya, yang sering ku temui di jalan ketika akan berangkat ataupun pulang dari kampus, membuatku tergerak kembali ke tempat ini. Rasanya tidak terlalu berat, biasa saja, bahkan akupun bahagia mendengar sapaan mereka. 
"Hari ini pulang cepat ya neng?" tanya ibu sambil tersenyum. 
Membalas senyuman ibu akupun menjawab,
"Iya bu alhamdulillah hari ini selesainya lebih cepat, hehehe". 

Wajar sih ibu bertanya seperti itu, karena sudah beberapa kali beliau mendapatiku pulang dijam-jam yang sulit dinalar oleh pikirannya. Ibu sering bertemu denganku saat hendak membuang sampah setelah warungnya tutup (Mereka mulai berjualan dari ba'da maghrib, jadi bisa dibayangkan tutupnya jam berapa. Dan pada waktu seperti itulah ibu sering bertemu denganku yang berwajah lusuh). Oh ya, ketakutan akan kenangan yang selama ini menahanku untuk tidak kembali dulu di warung itu, rupanya hanya kekhawatiran belaka. Itu semua hanya ketakutan yang ku ciptakan sendiri. Faktanya, aku bisa menginjakkan kaki di sana tanpa mengingat kenangan-kenangan sialan itu. Aku akan kembali lagi besok, lusa, atau mungkin beberapa hari ke depan. Ada cerita menarik yang ku dapatkan di sana. Cerita dari bapak dan ibu.

Kembali ke warung tenda itu, tanpa sengaja aku bertemu dengan teman sekosan di sana. Namanya Mba Tami, mahasiswi Universitas Padjajaran. Kami saling bertegur sapa, layaknya teman lama yang baru ketemu. Memang akhir-akhir ini kami jadi akrab. Akan ku ceritakan suatu hari nanti bagaimana prosesnya. Awalnya tak ada yang berbeda. Warung itu masih sama, masih memiliki banyak pelanggan. Untuk memperoleh menu yang diinginkan, kita bisa menunggu sampai satu jam. Mensiasati hal itu, akupun memesan apa yang Mba Tami pesan, agar dibuatnya bersamaan sehingga waktu menunggu bisa sedikit direduksi. Sambil menunggu, bapak yang dengan lihai menghendel kuali, sendok, kompor, dll mulai bertanya kepadaku,

"Di bandung sudah kemana aja neng?" 
Ku jawab seadanya "Paling sekitar Lembang pak, terjauh Ciwidey". 
"Berarti belum ke garut ya?"
"Belum pak, cuma pengen, tapi ga tau kapan bisanya, hehehe" Ku tutup jawaban itu dengan tertawa garing, seperti kue yang kelebihan backing soda.
"Kalau ke Borobudur pernah?" sambung bapak.
"Pernah sih Pak, cuman waktu itu umur saya masih 5 tahun" ku ceritakan pula sekilat kisah hidupku di Jogja yang saat itu ikut ayah sekolah.
"Kalau umur 5 tahun mah ga bakalan ingat apa-apa, nanti kesana lagi ya neng"
"Iya pak, Insya Allah" jawabku sambil tersenyum (Ah, seketika ingat Jogja dan sejuta keramah-tamahannya)
"Bapak asalnya dari Lamongan (kalau ga salah dengar ya, soalnya saat itu posisiku sedang menghadap ibu hendak membayar makanan yang sudah jadi tersebut) sekitar 2 km dari Borobudur" 
Aku hanya bisa tersenyum dan berkata kalau sudah tidak ingat lagi daerah-daerah tersebut, karena usia yang masih sangat muda ketika numpang tinggal di sana. Rupanya Mba Tami yang sedari tadi diam, mengamati percakapan ini. Dia mulai terlihat nyambung berbicara dengan Bapak soal daerah-daerah yang entah tak ku ingat namanya. 

Saat sedang menunggu Mba Tami yang berbicara dengan Bapak, akupun memberanikan diri bertanya kepada ibu,
"Kalau ibu aslinya dari mana?"
"(menyebutkan sebuah nama daerah yang kulupa juga namanya apa) sekitar 2 km dari tempat bapak" jawab ibu.
"terus, ibu dan bapak ketemunya di mana?" tanyaku lagi. Di dalam hati, aku menduga kemungkinan besar di Borobudur saat mereka berdua sedang tamasya. Ternyata dugaanku meleset.
"ya di Bandung ini" jawab ibu sambil tersipu malu. "waktu itu ibu kerja di pabrik yang di Cimahi terus bapak jualan di Sukajadi"
Masya Allah, seketika ku memuji di dalam hati. Bagaimana tidak, dua insan yang ternyata jodoh dipertemukan Allah dalam jarak sekian ratus kilometer dari daerah asalnya. Tak ada yang menduga bahwa pertemuan mereka di Bandung (sekedar informasi, jarak antara Cimahi dan Sukajadi sekitar 11 km) bisa menjadi awal dari terbentuknya sebuah keluarga yang "keren".

Dari percakapan singkat semalam, akupun akhirnya mengetahui sesuatu sekaligus alasan mengapa aku meberikan istilah keluarga keren, bahwa bapak dan ibu memiliki dua orang anak. Kedua anaknya terbilang sukses menurutku. Anak pertamanya alumni STAN yang sekarang sedang bekerja di Jakarta. Anak keduanya lulusan S1 Farmasi ITB yang saat ini sedang menempuh pendidikan apoteker di ITB juga. Mendengar nama STAN dan ITB seketika saya kembali memuji Allah, Masya Allah... Ia menganugrahi kedua anak yang sukses membahagiakan dan menjadi pelipur lara kedua orang tuanya. 

Akupun kembali teringat bagaimana dulu susahnya ketika ingin masuk STAN, sebuah sekolah dengan ikatan dinas, yang berarti kamu sudah akan mempunyai gaji ketika diterima dan berstatus sebagai mahasiswa di sana. Cita-cita yang dulu sangat ku idamkan karena dengan itu, setidaknya aku bisa membanggakan kedua orang tuaku. Anak pertama bapak-ibu berhasil masuk ke sana. Dan aku yakin, itu pasti tanpa uang pelicin. Dengan kepribadian seperti itu dan perjuangan yang saya lihat sendiri bagaimana susahnya bapak-ibu mengumpulkan rupiah dengan berjualan makanan (mereka tidak berjualan 24 jam, karena dengan memulai ba'da maghrib-sekitar jam 2 dini hari saja, bapak sudah sangat kelelahan, ditambah subuhnya beliau harus segera ke pasar dan mulai menyiapkan bahan bakunya sejak siang), sudah pasti anaknya masuk dengan hasil kerja keras dan jerih payahnya sendiri. Dan itu sangat jarang. Bukannya menjelek-jelekkan ya, saya pernah punya pengalaman, dimintai uang pelicin jika ingin masuk kesana, 100 juta, jumlah yang sangat tidak sedikit di tahun 2010 saat perekonomian keluargaku belum seperti saat ini. Itulah mengapa saya mengatakan anak pertama bapak-ibu pastilah cerdas.

Beralih ke anak kedua bapak-ibu, yang saat ini berstatus mahasiswa apoteker di ITB. Masuk ITB bisa dibayangkan bagaimana susahnya. Apalagi ketika menjalani tahun-tahun sebagai mahasiswa di sana. Kuliah di farmasi juga bisa dibilang tidak murah. Tapi, ternyata anak kedua ibu memperoleh beasiswa. Kembali ku mengucap Masya Allah. Dia tidak memberatkan bapak-ibu dengan persoalan biaya kuliahnya. Anak ini pasti cerdas dan punya tekat kuat. Saat mendengar cerita itu, aku menatap ibu sambil berkata "bapak dan ibu hebat". Ibu hanya tersenyum sederhana.

Menapaki jalanan gelap temarang menuju kosan, aku kembali terhanyut dalam cerita-cerita yang barusan ku dengar. Begitu kuasanya Allah. Ditengah kehidupan ekonomi yang tidak menentu, Allah menghadirkan anak-anak mandiri yang bisa menjadi kebanggaan bapak-ibu. Allah begitu adil. Dengan usaha keras bapak dan doa ibu yang mustajab, serta jiwa anak-anak mereka yang memang seorang petarung, menjadikan keluarga ini layak untuk dicontoh dan disegani. Jika kelak punya anak nanti, aku ingin berguru kepada bapak-ibu bagaimana cara mendidik mereka di tengah kesederhanaan agar  menjadi seperti anak-anak mereka.

Sesungguhnya, melihat anak-anak bapak-ibu, terbersit sedikit rasa iri dalam hatiku. Aku kembali berkaca, sejauh ini apa yang sudah ku lakukan untuk kedua orang tuaku? Sudah bahagiakah mereka? Apakah mereka senang memiliki anak sepertiku? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar semalam suntuk dalam otakku. Mungkin suatu saat aku ingin menanyakannya ketika pulang nanti.

Ah, cerita bapak-ibu membuatku tak sabar ingin kembali lagi ke warung itu: Artomoro...        
  

Minggu, 17 April 2016

Sunday

Hari Minggu...
Hari ini aku ingin menulis tentang hari minggu. Kenapa minggu? Tak ada alasan khusus sih, hehehe. Btw, mungkin aku akan menyebutnya Ahad saja yaaa, lebih enak didengar oleh telingaku. Check it out...

Bicara tentang hari ahad, siapa sih yang tidak senang dengan hari ini. Hari saat beban sekolah, kuliah, kerja, bisa sedikit kita tanggalkan sejenak. Hari saat berkumpul dengan keluarga. Hari saat hobi lama bisa dieksplorasi lagi ataupun hanya untuk sekedar leyeh-leyeh. Pokoknya banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan dihari ini.

Tapi...
Di hari ahad juga saya merasa sedih, karena besoknya adalah senin. Hari dimana semua aktivitas dalam seminggu dimulai dari hari itu. Apalagi jika di hari senin ada moment penting yang harus kita lewati yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus dipersiapkan dari sehari sebelumnya, yaitu hari ahad. Jika sudah begini, tak ada hari leyeh-leyeh lagi *sad face.

Yups, I love and hate sunday at the same time...

Menyukai dan membenci sesuatu di saat yang bersamaan memang sudah menjadi hobiku. Kadang ingin menghilangkannya, pokoknya kalau suka ya suka kalau benci ya benci. Tapi qodarullah saya orangnya begini, hehehe. Yang lebih parahnya lagi, terkadang seperti ada dua suara yang sedang berdebat di dalam kepalaku. Dan apa yang kulakukan? Hanya diam dan mengamati serunya perdebatan mereka. Jika sudah muak melihat mereka, yang saya lakukan adalah mengirim sinyal agar mereka segera berhenti. Syukurnya mereka tak pernah mengabaikan sinyal itu.

Meskipun kadang akupun sering mempertanyakan, apakah aku normal atau tidak, tapi di satu sisi aku kembali menjawabnya, tak mungkin aku sampai pada titik seperti ini jika ada yang tak beres dengan diriku sendiri. Memang terkadang kalimat penenang seperti itu, yang diucapkan oleh sisi lain kita, bisa menjadi penyelamat suasana sekaligus penyemangat. Dan itu tidak diperoleh dengan mudah. Kita bisa sampai pada titik itu (titik dimana kita memaafkan diri sendiri) saat tempaan batu bertubi-tubi tidak lagi terasa sakit (bukan dalam arti yang sebenarnya).

Ok, sepertinya diriku mulai ngelantur, ini sudah out of the theme. Sebelum makin ngelantur aja, izinkan diriku yang tak punya banyak followers ini berpesan:

"Bagaimanapun harimu dalam seminggu belakangan ini, tubuh, otak dan hatimu punya hak untuk beristirahat sejenak, berilah mereka waktu untuk itu"



Selamat berakhir pekan teman-teman, jangan lupa bahagia ya :D     

Minggu, 03 April 2016

Ibuku

Ibu,
Jika diminta menuliskan apa saja tentang ibu, yang terjadi awalnya adalah air mata berlinang di pipi (seperti saat ini). Alhamdulillah, hingga tulisan ini ku publish, ibuku masih sehat wal afiat, masih diberikan kekuatan oleh Allah dan Insya Allah tetap dalam naungan Allah, amiiinnn... Tangisku ini menggambarkan betapa ku bersyukur terlahir dari rahimnya dan tentu saja karena ku sangat merindukannya. Telpon hanya menjadi penenang sementara dikala rindu mendera. Ibarat obat, dia hanya penghilang gejala tetapi tidak mengobati penyakitnya.

Ibu,
Ibuku tipikal IRT biasa, yang kesibukannya sehari-hari hanya seputar rumah. Bangun subuh untuk mendoakan kesuksesan suami dan anak-anaknya sekaligus menyiapkan sarapan dan bekal untuk mereka. Paginya beliau siaga 1 menunggu mas sayur dan daeng ikan. Ibuku siap memulai tawar-menawar dengan mereka agar uang bulanan yang ayah berikan bisa cukup untuk keperluan sebulan ini. Sambil menunggu, sapu tak pernah lepas dari tangannya, dibersihkannya dedaunan yang mengotori halaman, ditata bunga-bunga kesayangannya agar tampak apik, dan sesekali bercerita dengan tetangga sebelah tentang harga sembako yang merangkak naik. 

Ibu,
Ibuku juga penggemar infotainment dan utaran (yang saat ini sedang booming). Saat siang tiba dan semua masakannya telah siap, beliau mengistirahatkan raganya dengan tontonan yang ia sukai. Tentunya sambil menunggu suaminya pulang untuk makan siang di rumah dan anak bungsunya yang pulang dari sekolah. Ketika mereka datang, ibuku bangkit kembali dari istirahatnya, menuju meja makan dan menghidangkan semua masakannya. Sambil menanyai apa saja yang anak bungsu mereka lakukan di sekolah tadi. Kadang omelan serta merta ia keluarkan ketika mengetahui anak bungsunya telah sangat nakal di sekolah hari ini. Dan suaminya hanya tertawa mendengarnya. Itulah ayah, sosok malaikat ketika sang anak kena omelan ibu.

Ibu,
Ibuku juga tidur siang. Tapi tak pernah lelap, karena selalu saja kami anak-anaknya berteriak ketika pulang ke rumah pada siang menjelang sore. "Ibu.. Ibu.." begitu panggil kami. Padahal kami telah hafal pada jam seperti itu, ibu pasti ada di ruang tengah sambil rebahan, memegang remot, dan tak jarang tertidur. Namun tetap saja, ketika pulang dan tak menyebut kata Ibu, ada saja yang kurang menurutku. Apalagi ketika makanan di meja tak sesuai harapan. Muka cemberut tanpa sadar ku keluarkan dan berusaha bertanya kepada ibu yang setengah terlelap apakah ada makanan lainnya atau mungkin bisakah saya minta uang saja untuk jajan di luar (astaghfirullah, mengingatnya membuatku malu dan merasa sangat berdosa kepada ibu). Ibuku tentu saja kesal melihatku seperti itu. Biasanya dia hanya memberiku tatapan merahnya, kemudiam kembali melanjutkan tidur. Kalau sudah seperti itu, kami tahu apa yang harus dilakuan, segera makan apa yang ada daripada kelaparan. Atau kalau stok mie instan dan telur masih ada, berkreasilah sesukamu. Yang jelas ibu sedang capek. Itulah arti tatapan merah ibu buatku.

Ibu,
Ibuku tak pernah terlambat menyiapkan makan malam. Saat menjelang maghrib, semua persiapan yang dibutuhkan telah ada. Nasipun telah matang. Dan ba'da maghrib, semuanya beliau eksekusi. Kami makan malam dengan sangat teratur, setelah Isya. Suara cempreng ibuku sering kali menjadi alarm untuk mengumpulkan kami di meja makan. Jarang semuanya lengkap. Adik keduaku yang saat ini mahasiswa tingkat tiga, lebih sering melewati waktu makan malam bersama. Maklum pada masa-masa itu berkumpul dengan temanlah yang menjadi prioritas. Saya sudah melewati masa itu. Ingin sekali kuberitahu adikku, bahwa dia akan menyesalinya nanti saat sudah jauh seperti saya sekarang ini. Betapa ku merindukan masa-masa itu.

Ibu,
Tak berhenti hanya sampai menyiapkan makan malam saja, beliau masih harus mengajarkan si anak bungsu perihal baca, tulis, hitung. Hal sepele sebenarnya, namun jika yang diajari adalah anak seaktif adikku, yakin saja, dibutuhkan tenaga ekstra. Bisa saja ibu minta tolong kepada anak-anaknya untuk mebantu si adik belajar. Namun kadangkala anak itu tak mau mendengar jika bukan ibu yang menanganinya dan tidak bisa dipungkiri kakak-kakanya punya sejuta urusan dan alasan untuk menghindar serta tidak punya kesabaran ekstra seperti yang dimiliki ibuku.

Ibu,
Terkadang meskipun jam sudah menjukkan  tengah malam, matanya belum juga terlelap. Sambil mencoba menikmati acara TV dan dengan handphone ditangan sambil sesekali mengecek dimana keberadaan adik keduaku saat itu. Sebagai mahasiswa aktif dan pintar, adikku itu acap kali mengadakan belajar kelompok, dan tak tanggung-tanggung jam pulangnya tengah malam. Terkadang juga nginap. Itulah yang menyebabkan ibuku tak bisa tertidur meski matanya menunjukkan sebaliknya. Beliau baru akan tidur setelah memastikan apakah anaknya akan pulang atau tidak malam itu. Dan setelah yakin jika pagar dan pintu rumah telah terkunci semuanya.

Itulah ibuku dengan kesibukannya. Pekerjaannya tak anggun. Tak menghasilkan uang secara langsung. Tapi pengabdiannya pada keluarga telah mencetak suami sekaligus ayah yang bisa dibanggakam anak-anaknya dan anak yang Insya Allah sedang berjuang untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ibuku sekolahnya tak tinggi (tamatan S1, itupun beliau jalani ketika yakin anak-anak dan suaminya bisa mandiri ketika ditinggal kuliah beberapa jam, waktu itu saya sudah kelas 3 SMA). Sebetulnya ibuku hanya tamatan SMA, tapi karena semangat juangnya tinggi, beliau tetap ingin lanjut walau usia sudah tak muda lagi kala itu untuk ukuran mahasiswa S1. Tapi... kami bangga dan sangat bahagia melihat ibu bisa memakai Toga (pakaian wisuda) yang ia impikan dulu, namun harus sedikit lama tertunda karena pengabdiannya untuk keluarganya.

Ibuku pahlawanku,
Ibuku panutanku,
Ibuku guruku,
Ibuku sahabatku,
Ibuku syurgaku (Insya Allah)

Insya Allah, semoga kelak ayah, ibu, ela, epit, lala, izaz, bisa berkumpul di Jannahnya Allah. Tanpa kurang seorangpun. Semoga kami anak-anak mereka tidak menjadi penghalang masuknya mereka ke Syurga. Semoga ayah ibu dan adik-adikku selalu sehat disana. Semoga keluarga kami selalu dalam lindunganMu Ya Allah, aamiiinnn...



Bandung, 3 April 2016

Si Sulung,
Yang tak hentinya merindu


Jumat, 01 April 2016

Bersyukur Ketika Masalah Datang

Ketika ingin menulis ini, tak ada niatan jelek terselip di dalamnya Insya Allah. Semuanya saya tulis dan bagikan di sini agar ketika ada teman2 yang sedang mengalami hal serupa, bisa saya tularkan sedikit apa yang telah saya lalui dan rasakan. Insya Allah membantu...

Bismillahirrohmanirrohim,

Setiap yang hidup, setiap yang bernyawa, setiap yang masih diberikan kesempatan untuk tinggal di buminya Allah pasti tak akan luput dari yang namanya ujian. Mungkin kita sering menyebutnya sebagai "Masalah", begitupun saya dulu, tetapi ketahuilah itu sebagai bentuk rasa sayangnya Allah kepada hamba-hambaNya. 

Berbahagialah ketika ditimpa sebuah masalah,

Kenapa?

Karena ketika masalah itu datang karena dosa-dosa dan kesalahan kita, ketahuilah bahwa lewat masalah itu Allah sedang menegur kita lewat caraNya. Mungkin sebagian akan berpikir "apakah itu berarti Allah telah murka kepada kita?". 

Tidak, jawaban yang saya yakini adalah Allah menegur kita sebagai bentuk peduliNya, sebagai bentuk kasih sayangNya. Allah ingin memberi tahu lewat masalah ini bahwa kesalahan yang telah kita lakukan membuat kita jauh terhadap Dia. Allah ingin kembali mengingatkan bahwa jalan yang kita tempuh salah. Allah menghentikan langkah kita lewat sebuah masalah, agar kita tidak jauh tersesat ke depan dan tahu jalan untuk kembali. Jalan untuk kembali meminta ampunannya atas apa yang telah kita lakukan. Allah kembali membimbing kita, tenang teman2, Allah tidak akan membiarkan kita sendirian menghadapinya. 

Lewat masalah, sesungguhnya nikmat yang Allah kucurkan sangat banyak, asal kita mau berpikir sejenak. Pertama, kapan terakhir kita merasakan sujud yang begitu nikmat? Ya, ketika kita ditimpa masalah. Kedua, kapan terakhir kita meminta dengan penuh rasa pengharapan? Tentu saat sedang ada masalah. Ketiga, kapan terakhir kali kita menangis tergugu sambil mengingat dosa-dosa kita? Tentu saja ketika masalah menghampiri. Lalu, dimana letak nikmatnya? (mungkin ada yang bertanya seperti itu). Ketahuilah teman, semua yang saya sebutkan tadi tidak akan dirasakan oleh orang yang hidupnya biasa saja tanpa masalah.

Lewat masalah, Allah kembali mengingatkan kita tentang hakikat meminta dan berharap. Mungkin semasa tak ada masalah, bisa dihitung dalam sehari berapa kali kita mengingat Allah. Dalam sebulan adakah sekian kali kita mengharapkan pengampunan Allah jika tak ada masalah. Ketahuilah, Allah mendatangkan sebuah masalah agar kita kembali meminta kepadanya. Agar kita kembali hanya berharap kepadanya. Agar sujud kita lebih khusyu'. Allah ingin kita lebih dekat dengan dengannya. Allah ingin menunjukkan kepada kita yang sedang tersesat bahwa Dialah Sang Pengatur, maka mintalah sesuatu padanya, bukan malah berharap kepada makhluknya.

Lalu, masihkah kita menganggap masalah itu sebuah beban dan bentuk marahnya Allah kepada kita?

Tidak teman (Insya Allah saya tetap merasakan apa yang telah saya tuliskan sebelumnya). Apalagi ada ganjaran besar di ujung sana tentang kenaikan derajat dimata Allah bagi orang-orang yang ikhlas dan sabar menjalani masalahnya.

Maka bersyukurlah ketika sedang diuji oleh Allah,
Alhamdulillah :)

Oh iya, this picture describes what i feel now (curcol hihihi)
   
(Bukti bahwa Allah masih menyayangiku)