Jumat, 06 Mei 2016

Agar Tidak Salah Jurusan

Dalam beberapa minggu ini diriku bertanya-tanya:
"Kenapa menulis tesis tidak semudah menulis artikel di blog?"
Pertanyaan lanjutan:
"Apakah aku salah jurusan?"
Sebetulnya pertanyaan tentang salah jurusan bukan baru kali ini terlontar dari mulutku, sering. Tetapi selalu ku bantah karena mengingat segala hal yang sudah ku korbankan untuk pilihan ini. Awalnya selalu berhasil, tetapi entah kenapa otakku sering menolak belakangan ini. Mungkin ia pun telah lelah, sama seperti pemiliknya.

Bagi teman-teman yang sedang berada di persimpangan jalan dan sedang menentukan kemana arah hidup kalian ke depannya, mungkin tulisan ini bisa membantu.
  1. Jangan gegabah memilih jurusan apa yang akan kalian masuki. IPA tidak mesti harus masuk ke jursan yang berbau IPA, begitu pula IPS tidak harus lanjut ke jurusan tentang IPS. Intinya jangan gegabah, pikirkanlah dengan matang.
  2. Apa yang harus dipikirkan? Simple! yaitu mau jadi apa kalian ke depannya. Ingat, MAU JADI APA, bukan: "jika saya masuk juruan A mungkin mudah ya dibanding jurusan B, ya sudah A saja kalau begitu". Jadi, jurusan yang kalian pilih adalah jurusan yang akan mengantarkan kalian menjadi sosok yang kalian inginkan.
  3. Jika belum tau mau jadi apa ke depannya, cobalah tengok profesi sanak saudara kalian, teman kakak, teman ayah-ibu kalian, tetangga, dll. Lihatlah seperti apa pekerjaan mereka. Adakah diantaranya yang kira-kira kalian sukai. Sekalian tanya suka-dukanya bekerja di bidang yang mereka geluti supaya dirimu makin mantap memilih. Jika tak ada deretan dari orang-orang yang telah saya sebutkan tadi, mungkin kalian bisa googling. Saya yakin Mbah google bisa menjawab pertanyaan kalian.
  4. Pastikan jurusan yang kalian pilih (tentunya telah memenuhi kriteria point 2) akan kalian sukai ke depannya, karena sesulit apapun jurusan itu, jika kita suka, pasti dengan mudah kita taklukan. Sebaliknya, jika kita tidak menyukainya, yakinlah, semudah apapun masalah yang akan kalian hadapi kedepannya, maka akan terasa sangaaat berat. 
  5. Namun, jika kalian tetap ngotot menjadi A dengan begitu berarti kalian harus kuliah di jurusan A (padahal kalian tidak suka palajaran di jurusan A), cobalah berdamai dengan dirimu sendiri. Tanyakan kepada hati dan otakmu apakah mereka siap mengawalmu untuk melewatinya? Coba buat perjanjian dengan dirimu sendiri bahwa apapun yang terjadi ke depannya, dirimu tak akan menyerah, karena ini demi profesi A yang telah lama kau idamkan. Jika perjanjian itu telah kau sepakati, ucapkanlah basmalah dan minta kekuatan kepada Allah untuk melewatinya.
  6. Buat yang telah menetapkan pilihannya akan B dan ternyata jurusan untuk mencapai B adalah sesuatu yang disenangi, tersenyumlah, ucap basmalah, dan lakukan usaha terbaikmu, karena tidak banyak orang seberuntung dirimu.
  7. Buat yang belum mengetahui kemauannya apa hingga membaca point 7 ini, bersabarlah, tak apa terlambat memutuskan sesuatu dibanding cepat namun akhirnya salah. Salah jurusan bukan sesuatu yang bisa kau ulangi seenak hati seperti halnya salah adonan ketika membuat kue. Ketika salah jurusan, berarti dirimu telah membuang sekian bulan, tahun hidupmu dan waktu itu tak akan bisa kau kembalikan. Terlebih lagi kau tidak bisa berhenti di tengah jalan jika tak ingin di cap sebagai orang gagal. Pilihannya hanyalah melanjutkan sesuatu yang kau tau tidak kau inginkan dan dirimu akan selamanya terjerumus di sana: gelap, menakutkan.

Ayooo semangat :)
Buat yang merasa sudah salah jurusan, nanti yaaa diriku bagi tips dan trik menikmatinya hehehe...
Bye, i've gotta go now.

with love,
Lely Saula       

Senin, 02 Mei 2016

Bahagia karena Bersyukur

Tak sulit melukiskan kebahagiaan, sama halnya ketika menumpahkan kesedihan. Apalagi saat kebahagiaan itu dapat menjadi penawar rasa sakit. Kebahagiaan tak melulu soal berapa uang yang didapat ataupun tentang cinta (semu) dari seseorang yang disebut pacar. Arti kebahagiaan luas, tidak sedangkal itu, dan dimulai dari hal yang sederhana. 

Bahagia itu kita yang tentukan, mau sekecil apapun penyebabnya. Seperti yang terjadi minggu ini:
1. Alhamdulillah, presentasi progress report TA ke Pak Sony berjalan lancar.
2. Alhamdulillah, materi siklopeptida (eltur) diputuskan tidak ada ujiannya.
3. Alhamdulillah, minggu ini menjadi presentasi terakhirku di kelas Bioinfo, itu artinya bye rabu-kamis rempong
4. Kamis dapat traktiran es krim magnum dari Pak Sony saat lagi ngobrolin vektor dan enzim yang akan dipesan. Alhamdulillah :)
5. Dan Jumat sudah presentasi progress report TA di hadapan dosen-dosen KKBF, alhamdulillah semuanya aman dan terkendali.

Kembali ke konsep bahagia, saya masih berkeyakinan, dimana ada bahagia pasti diikuti dengan rasa syukur. Dan itu memang benar. Tuhan pun telah menjanjikan seperti itu: barang siapa yang selalu bersyukur maka akan ditambahkan nikmatnya. Bersyukur sebagai bentuk bagaimana kita berterima kasih kepada Tuhan, karena apapun kehendak Tuhan, sudah pasti itu yang tepat untuk kita. Tepat menurut Tuhan namun kadang kala masih dianggap tidak memuaskan menurut kita. Tapi yakinlah, apapun itu, keputusan-Nya adalah sesuatu yang nantinya akan kita sadari bahwa memang benar Tuhan menggariskan hal tersebut karena sangat bermanfaat untuk kita.

Bahagia yang diperoleh dengan cara bersyukur membuat kita memandang suatu hal dari sudut yang berbeda. Contohnya cerita es krim di hari kamis kemarin. Bagi orang lain yang sekedar membaca cerita ini mungkin akan berpendapat: "ah, apasih cuma sekedar es krim", tapi bagiku, hal sekecil itu mampu membuatku tersenyum sepanjang hari. Es krim itu ikut lumer dengan segala derita dan kekhawatiranku akan penelitian. Lega rasanya setelah keluar dari ruangan Pak Sony, terima kasih pak :) hanya sekedar bercerita sambil melihat senyum bapak membuat beban di pundakku sedikit terangkat, seolah melihat Ayahku sedang berada di depanku.

Intinya, yang ingin coba saya sampaikan adalah:
"Berbahagialah, walaupun alasan bahagiamu hanyalah hal kecil, karena hal kecil itu tetap datangnya dari Allah. Dan bersyukurlah, agar bahagiamu bertambah nikmat"



From me,
the smiling girl
:)