Rabu, 24 Agustus 2016

Divortiare dan Twivortiare

Gues what?
I've end up with 2 novels from Ika Natassa just in 24 hours!
Dan novel ketiga dari serial Divortiare akan segera menyusul...


Mau sedikit review tentang apa yang udah gue baca (sok) wkwkwk.


Divortiare
Maaf, gue telat banget dengan euforia yang mungkin udah sejak tahun kapan berlangsung akibat novel ini. Dan seperti kebanyakan orang yang jatuh cinta dengan tokoh Beno, gue pun begitu! Divortiare menceritakan tentang gimana kehidupan dua orang after perceraian. Yang buat cerita ini makin greget adalah ternyata kedua tokohnya (ex-wife&husband) masih saling sayang. Ups, maafkan spoiler dikit yaaa.

Ika Natassa kembali berhasil ngubek-ngubek perasaan gue lewat Alex dan Beno, lewat love-hate relationshipnya mereka. Bagaimana mereka terlihat membenci setelah perceraian itu, tetapi masih saling memperhatikan. Beno yang masih sangat care dengan Alex ketika ia tiba-tiba sakit, meskipun dengan alasan: "itu udah kewajibanku sebagai dokter". Bukan cuma dengan Alex sih, tapi dengan keluarga Alex, specially her mother. Dan Alex yang ngga bisa kalau ditangani oleh dokter selain Beno ketika sedang sakit dengan dalih: "dia kan dokter pribadiku, ini cuma hubungan pasien-dokter" atau "mencari dokter yang nyaman dan loe percaya itu susah". Ok, kayak ngga ada dokter lain aja hahaha. 

Cara Mba Ika menggambarkan rasa sakit setelah perceraian juga bisa dibilang "wow banget". Gue yang notabene belum pernah nikah apalagi cerai (amit-amit), bisa merasakan how Alex feel. Ia yang begitu nggak bahagia dengan kehidupan pernikahan di tahun keduanya, yang sangat mencintai dan membenci Beno disaat yang sama, dan ia yang begitu frustasi ketika meminta Beno untuk menceraikannya. Dan gue juga entah kenapa bisa paham gimana perasaan Alex ketika Beno mengiyakan, terlepas dari apapun alasannya yang belakangan gue ketahui ketika baca Twivortiare. It's so hurt! really hurt!

Tapi bukan Mba Ika namanya kalau nggak memberikan "bumbu" dalam ceritanya. Ada seorang tokoh, namanya Denny. Menurut gue, dia itu bumbunya, bisa dibilang penyedap rasa. Keberadaannya cukup penting dan kuat menurut gue, sampai-sampai perhatian gue sempat teralih dari shippernya Alex-Beno menjadi Alex-Denny. Tapi itu cuma sementara sih, sampai gue menyadari dan menyelami karakter Alex yang ternyata belum bisa menemukan pengganti Beno. Hey, itu artinya dia masih mencintai (I mean masih sangat mencintai) her ex-husband: Beno. So, gue balik lagi jadi pendukung setia Alex-Beno. Maaf ya Denny... I believe, you will meet another woman, mungkin besok, atau hari berikutnya. Kamu orangnya baik kok ;)

Terakhir, gue agak sedih sih baca endingnya, yang pasti semua orang pada saat itu (beberapa tahun yang lalu ya, ketika novel ini pertama kali terbit) akan berkata hal yang sama: nge-gantung! Bayangin gimana perasaan fans Mba Ika pada saat itu yang masih penasaran sama kelanjutan kisa Alex-Beno tapi ngga bisa berbuat apapun, secara Twivortiare baru ditulis 4 tahun kemudian. Syukurnya, karena gue tergolong orang yang telat baca, gue bisa men-skip rasa penasaran itu. Hahaha. 3 of 3 is my hand right now.

Twivortiare
Awal-awal baca novel ini, gue agak sedikit bingung dengan gimana cara mencari cara yang enak supaya gue bisa paham apa yang coba Alex sampaikan lewat tweet-an-nya. Gue main twitter sejak 2010, cuma agak aneh sih ngeliat apa yang sering gue liat di layar hp terus berpindah ke sebuah buku. Dan itu bukan cuma sebagian, seperti halnya salah satu adegan di novel lain ketika sang tokoh menerima pesan di media sosialnya. Tetapi ini all of the story, one book, from the begining to the end. Tapi, setelah baca beberapa halaman, gue mulai terbiasa, dan jadi sama aja rasanya seperti nge-stalking akun mantan #eh atau gebetan sebelum gue tertidur. Bedanya, ini bukan di scroll tapi dibalik lembar demi lembarannya. Pokoknya salut buat Mba Ika Natassa yang sudah berhasil menciptakan cara menulis yang baru. I adore you Mba!

Di Twivortiare, apa yang menurut gue nggantung banget di sekuel sebelumnya terjawab sudah. Kenapa mereka bercerai, bagaimana mereka akhirnya kembali bersama, dan apa yang terjadi pada Denny, dll. Masalah anak yang gue baru tau ternyata begitu menjadi sangat sensitif ya bagi pasangan yang udah lama nikah tapi belum diberikan rezeki itu oleh Allah? Dan di novel kedua ini gue baru menyadari betapa-sangat-sibuknya pasangan tersebut. Sumpah! gue jadi sedikit 'ngeri' ketika membayangkan kalau itu terjadi pada gue. Satu lagi, gue bisa merasakan lewat novel ini kalau ternyata di balik kelempengannya Beno sangaaaaaaaaaat mencintai Alex, begitupun sebaliknya. Pengen juga punya orang yang seperti itu dalam hidup gue, pengen ada seseorang who treat me like Beno to Alex. Pengen! Tuh kan baper! Thanks Mba Ika!

Ok, Twivortiare 2 belum bisa gue bahas ya, secara masih tersampul indah dengan plastiknya. Tapi tenang, dalam minggu ini akan gue lahap. I've gotta go now, masih punya kewajiban lainnya sebagai mahasiswa tingkat akhir banget, bye :)



Mereka yang menjadi penyebab gue harus ngirit bulan ini :p
  
    

       
    

Sabtu, 20 Agustus 2016

Curhatan TA (part 1)

Judul : Curhatan TA
Chapter : Ligasi
Backsound : Suara manis dede Shawn Mendes


Sebetulnya gue ga tau apa korelasi antara TA dan Shawn Mendes, tapi yang jelas saat sedang menulis chapter ini, alunan gitar dan lembutnya suara Shawn Mendes terasa cocok. Satu kata: menentramkan. Yups, gue sedang galau-galaunya malam ini. Asli galau TA! Ok, buat yang belum tau, TA adalah singkatan dari Tugas Akhir (ini bagi yang benar-benar belum tahu loh ya). Kemarin gue udah ligasi 22 derajat celcius-1 jam dan hasilnya langsung ditransform. Alhamdulillah, alhamdulillah banget, setelah 16 jam, transformannya tumbuh. Wait, kayaknya gue udah nyerocos panjang lebar ya tanpa memperdulikan perasaan pembaca (sok ya gue, hehehe). Buat yang bingung apa itu ligasi, transfromasi, transforman, sebetulnya kalian bisa googling sih. Tapi mudahnya gini, jadi gue itu sedang mencoba menggabungkan 2 part (namanya vektor dan insert). Proses tersebut namanya ligasi. Gue ngelakuinnnya (lebih tepatnya inkubasi) di suhu 22 derajat celcius selama 1 jam. Gue dan orang-orang yang ngerjain kayak gini untuk bisa tau ligasinya berhasil apa ngga yaaa jalan satu-satunya (yang gue tau sampai saat ini ya) adalah transformasi. Apa itu? yaitu memasukkan hasil ligasi (hasil ligasi ya berupa gabungan antara vektor dan insert, intinya mereka itu DNA lah) ke sel bakteri. Untuk tahap ini bakteri yang gue pakai adalah E. coli DH5alfa. Terakhir, transforman, itu adalah bakteri yang gue tumbuhin yang di dalamnya ada DNA yang udah gue masukin. Balik lagi, untuk tau ligasinya berhasil apa ga, ya harus ngecek transformannya apakah membawa DNA yang kita mau apa tidak. Caranya adalah dengan isolasi plasmid, yang kalau pakai metode Alkaline Lysis bisa menghabiskan waktu 8 jam, belum konfirmasinya (analisis migrasi dan PCR) bisa sampai nginep gue kalau kayak gini, demi mengobati rasa penasaran terhadap hasil ligasinya. Dan itu yang akan gue lakuin besok (Eh hari ini ding, ini kan udah Sabtu dini hari). Fix! malming di Lab Gene wkwkwk.

Back to the topic, asli gue deg-degan. Ini tuh udah ligasi ke sekian gue. Tapi jumlahnya belum ngalahin rekor kegagalan gue transform ke bakteri lain sih (baca: Agrobacterium tumefaciens) yang mungkin akan gue ceritain di chapter berikutnya. Kepehapean (I know you can spell it well) hasil ligasi pertama, jujur, masih menghantui gue. Gimana tidak, dari 31 koloni, yang gue periksa, tak ada satupun transforman membawa DNA yang gue inginkan, it means ga ada yang terligasi, hiks. Semua koloni isinya vektor kosong. Entah itu karena self ligation (yang sepertinya ga mungkin, karena gue pake 2 enzim restriksi yang berbeda) atau mungkin vektornya benar-benar ga kepotong. Ok, gue ga bakalan jelasin apa-apanya yang terdengar asing ya, silahkan arahkan kursosr ke google, dan ketikkan kata yang ingin anda ketahui artinya. Oh ya, 31 koloni itu ga gue periksa sekaligus sehari sih. Waktu itu gue bagi jadi 3 batch. Jadi bisa dibilang gue ngelewatin siklus 8 jam-lebih itu sebanyak 3 kali. Mabok! Dan setelah proses panjang itu gue harus menerima kenyataan pahit kalau ligasinya gagal men, gagal!!!

Btw, sekedar info, ligasi itu ngga asal mipet terus inkubasi. Untuk bisa menggabungkan vektor dan insert, berarti gue harus punya stoknya kan. Nah, stoknya ini harus dipotong dulu dengan enzim (restriksi-gue pakenya BglII dan SpeI). Hasil restriksi dielektroforesis dulu, kemudian dipurif, lalu dielektroforesis lagi. Setelah itu baru bisa ditentukan berapa perbandingan vektor dan insert yang ideal agar ligasinya berhasil, tapi ga menjamin juga akan berhasil sih. Ada juga yang ngecek konsentrasi akhir hasil purif. Kalau gue sih malas, buang-buang stok, dan harus bolak-balik Labtek yang berbeda. Ya itulah gue dengan segala kekurangannya hehehe. Jadi, bayangin kalau ligasi gagal, artinya harus ngulang dari tahap restriksi dkk lagi. Pokoknya kalau udah ngomongin ligasi, gue udah pasrah terserah Allah aja.

Belum sembuh dari luka ligasi pertama. Gue dikejutkan dengan hasil ligasi kedua sampai keenam yang bentuk transformannya tuh ngaco dan gue ngga yakin kalau itu tuh bakteri yang gue tanam. Secara kontrol negatifnya tumbuh men! Dan itu terjadi se Lab gene yang pakai bakteri sejenis dan antibiotiknya Kanamisin. Mungkin bakterinya sudah resisten, I don't know. Dan yang bikin lemes, enzim SpeI udah dikit banget dan kalaupun beli masih harus nunggu sampai bulan depan. Hello... jadi gue harus vakum lagi dari TA? Disaat yang lain udah mau beres? NO!!!

Untungnya di ligasi keenam, setelah mengganti sumber bakterinya juga, transforman yang tumbuh ga macem-macem. Bentuk koloninya terlihat menjanjikan. Itulah yang gue cuplik untuk kultur cair dan akan melewati tahapan 8 jam. Kontrol negatifnyapun bersih. Alhamdulillah... Semoga ini jadi ligasi terakhir ya.. Pengen segera ke tahap selanjutnya. Semoga hasil PCRnya bilang kalau plasmid itu adalah pCambia-cyp. amiiiinnnnnn... Siapapun yang baca ini, tolong doakan ya :) Udah ga tau harus ngapain, gue cuma bisa berkeluh-kesah, bersyukur, dan berharap disaat yang sama. I have to go to sleep, bye :)



and take a piece of my heart
and make it all your own
so when we are apart
never be alone
you'll never be alone


p.s:  Shawn mendes - Never be Alone, lagu terakhir di playlist gue sebelum mengakhiri cerita ini.