Minggu, 16 Oktober 2016

Kecanduan Drakor

Hai.. Hai everyone, pembaca setia blog ini (kayak ada aja kkkk~)
Ini adalah tulisan pertama gue di bulan Oktober 2016. Dan melihat history terakhir adalah bulan Agustus, it means gue ga nulis anything di bulan September (So sad, begitu ga produktifnya gue). 

Bicara tentang ketidakproduktifan, bukan hanya di blog, di dunia akademikpun diriku begitu. Menulis saat ini terasa seperti hal yang menjemukan, bahkan terkesan memuakkan. Apalagi ketika deadline di depan mata. Lantaran malasnya menulis, pernah suatu hari gue harus submit abstrak untuk ngedaftar sebagai pemakalah di salah satu seminar bioteknologi gitu (ini atas inisiatif dosbing gue), nah apesnya, gue baru tahu kalau deadlinenya tuh tanggal 8 Oktober, dan tanggal 8 Oktober akan berakhir 2 jam ke depan (saat itu). Kalau gue ga sedang didera kemalasan menulis, gue pastinya udah menyiapkan naskah itu jauh-jauh hari, secara gue udah tau event itu seminggu sebelumnya. Dan coba tebak apa yang terjadi? Gue berusaha menyusun 200 kata itu dalam waktu kurang dari 2  jam dengan dada bergemuruh, takut ga selesai, takut apa yang gue tulis ga mutu banget karena ga ada waktu buat revisi. Syukurnya karena pacuan adrenalin, tulisan itu selesai, agak lebih dari 2 jam sih, tapi menurutku it's ok. Tapi... di akhir gue baru nyadar, kalau abstraknya harus ditulis dalam Bahasa Inggris juga. Shit! Gue bukannya ga bisa, cuman untuk nulis sesuatu yang berbau akademik dalam bahasa asing, gue sangat-sangat ga PEDE! Saat itu gue cuma bisa mengutuki diri sendiri sambil berharap panitianya berbaik hati mau menerima keterlambatan naskah gue yang akan gue undur sampai tanggal 9 karena harus minta bantuan My Angel a.k.a Kak Fani buat ngetranslet 200 kata ga mutu yang udah gue susun sebelumnya ke English.

Nah, mungkin kalian udah bisa menebak hubungan antara ketidakproduktifan menulis gue dengan judul tulisan ini: Kecanduan Drakor. For your information,

Drakor = Drama Korea.

Yups, dalam 24 jam sehari, ketika sebagian besar waktu itu habis buat nge-lab dan istirahat, gue masih bisa menyelipkan jatah nonton drakor. Biasanya setelah pulang ngelab, mau jam berapapun itu, gue harus nonton seenggaknya 1 atau 2 episode baru bisa tidur. 1 episode berdurasi 1-2 jam. Jadi, dalam sehari gue bisa menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam hanya untuk nonton. Bayangkan jika 4 jam itu bisa gue alokasikan buat hal lain, menulis tesis misalnya. Ditambah lagi, ketika gue udah pulang dari lab jam 9 malam nih, rasa capek yang teramat sangat menyebabkan gue ga bisa langsung tidur, alhasil gue nonton drakor lagi, dan dia menginvasi waktu istirahat gue. Akibat waktu istirahat yang kurang, keesokan harinya gue bangun dalam keadaan lemes!

Permasalahannya, gue udah tau penyebab ga teraturnya kehidupan gue, tapi tetap aja gue ga bisa ngerubah itu. Apa seperti ini perasaan para pecandu drugs? Syukur ya gue cuma kecanduan drakor. Bahkan untuk ngebuat tulisan ini, gue harus nonton drakor dulu dan setelah tulisan ini selesai, drakor K2 episode 8 udah menunggu buat gue tonton. Parah banget ga? Gimana nasib tesis gue? Ok, jangan tesis dulu, gimana nasib makalah seminar di Jogja yang deadlinennya jam 12 malam ini yang satu hurufpun belum gue tulis?

Belum lagi dengan kebiasaan baru gue yaitu menonton ulang drakor yang sebelumnya udah pernah gue tonton. It means selain drakor yang sedang ongoing, gue juga menyelipkan jatah untuk kembali menikmati drakor yang menurut gue worth it. Ya, 2 hari ini gue udah melahap drakor It's Ok That's Love yang udah gue tamatkan di tahun 2014 kemarin. Gue sebetulnya tipikal orang yang ga suka nonton drakor yang sama sebanyak 2 kali, mau sebagus apapun drakor itu. Prinsip ini udah gue pegang sejak drakor jaman Endless Love sampai saat ini ketika Scarlet Heart Ryeo booming. But I has canged, prinsip itu gue langgar 2 hari yang lalu.


  • Teori 1: mungkin gue cuma kangen dengan tokoh di drama tsb, secara kharisma Jo In Sung dan keunyuan DO bikin nagih.
  • Teori 2: di periode Oktober ini drakor yang bermutu sedang minim. Even Scarlet Heart Ryeo sedang booming, tapi drakor itu ga masuk standar gue. Maaf oppa Lee Jun Ki, kali ini kamu salah pilih drama. Seharusnya lawan main kamu di drama itu bukanlah para Idol yang kemapuan actingnya so-so~
  • Teori 3: Pun ada drakor yang masuk standar gue seperti Moonlight Drawn by Clouds, tapi drama itu sedang memasuki tahapan membosankan. Penikmat drakor pasti tahu, ada kalanya drakor ongoing yang awalnya greget menjadi ga greget lagi ketika memasuki episode 10 ke atas. Apalagi jika nontonnya 2 episode per minggu. Kita keburu lupa bersambungnya saat moment apa hahaha. biasanya untuk drakor jenis ini, gue prefer buat nunggu sampai tamat dulu terus gue habisin sekaligus.
  • Teori 4: Drakor K2 yang masih masuk stase greget pun cuma bisa 2 episode per minggu. It means kebutuhan akan tontonan drakor yang menurut stadarku tidak tercukupi.

Itu 4 alasan yang bisa jadi penyebab ga tertolongnya gue sampai harus nonton drakor yang sama 2 kali. Semoga ga keterusan. Itu doa yang dengan sangat tulus gue panjatkan, bantu Amin-nya ya readers.

Sebetulnya dengan nonton drakor, banyak ide-ide gila yang terlintas di kepala gue. Ide tersebut sangat membantu dalam penyelesaian tulisan gue (yang jelas bukan tesis) yang gue namain the everlasting story. Kenapa namanya seperti itu? karena ide pokok dan karakter cerita itu udah ada di kepala gue sejak jaman SMA, tapi sampai saat ini ketika gue udah tingkat akhir di bangku S2, cerita itu belum juga selesai. Sering kejadian, ketika selesai nonton drakor, gue terilhami sesuatu dan pengen gue terapkan di story gue, tapi lantaran ngantuk dan capek yaaa ga jadi. Keesokan atau sekian hari berikutnya, saat gue pengen nulis, ide itu udah lenyap, ga ada, atau bahkan ga greget lagi seperti halnya ilham itu pertama kali mampir di kepala gue. Sedih kan? Banget!

Gue jadi bertanya-tanya, apa iya selamanya gue hanya jadi penikmat drakor aja? Dengan umur yang udah segini (ok, tahun besok gue Insya Allah 24 y.o), gue pengen banget menghasilkan sesuatu dari hobi gue, I mean something yang berbau materi. Gue ga mau ini hanya jadi kesenangan gue semata, secara dia udah mengambil porsi yang cukup besar di 24 jam yang gue punya dalam sehari, dan hampir 12 jam ketika weekend (gue sering nonton dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore, istirahatnya cuman pas lagi Solat). Dan unfortunately, gue ga terlalu berharap banyak terhadap profesi yang kelak bisa gue geluti dari hasil kuliah selama 6 tahun ini (mungkin 7 tahun karena ada 1 fase lagi yang harus gue lewati). Ini lebih ke gue-nya yang ga-mau atau agak-malas sih, bukan salah profesinya. You can read tulisan gue di blog ini juga yang judulnya "Agar Tidak Salah Jurusan". Semua kegundahan gue secara ga langsung tertuang di sana.

Inti dari tulisan ini, gue pengen banget menghasilkan sesuatu dari hobi yang sekarang udah berubah jadi candu, tapi ga tau gimana caranya. So, kalau ada yang kebetulan baca dan sekiranya mau ngebantu gue lepas dari lingkaran setan ini atau tau gimana caranya menghasilkan sesuatu dari problem yang sama kayak gue, please contact me at 085241746265. Your advice means a lot to me. Bye.