Selasa, 01 November 2016

Cerita Artomoro part 2

Masih ingat tulisanku tentang "Cerita Artomoro"? Kali ini ada sedikit sambungannya, hehehe. Yups, check it out

Selepas menghabiskan semangkok jumbo Ramen Karnivora di Shinju Ramen, aku bergegas pulang menuju kosan. Kondisi perut yang alhamdulillah kenyang mampus, membuatku tak begitu memperhatikan jalanan sekitar, termasuk warung Artomoro, tempat Bapak dan Ibu biasa berjualan. Lantaran tak pekanya, aku sampai tak menyadari kalau Artomoro tutup. Aku baru menyadarinya ketika mendekati kosan dan melihat sosok yang tak asing berjalan mendekat.

Loh itu bukannya Bapak? batinku. Ah, bukan. Pria itu merokok, elakku. Ku percepat langkahku, berhadarap bisa bertemu dengan pria yang ku anggap adalah Bapak di pertigaan depan. Pria itu menyadari keberadaanku, begitupun aku, spontan aku berkata "Eh, Bapak". "Iya" balas beliau, tentu dengan senyum khasnya. Satu fakta yang aku ketahui ternyata Bapak merokok juga. Ku kira di balik badan tambun pekerja keras itu tak ada embel-embel nikotin. Ya sudahlah, hidup adalah pilihan. Mungkin Bapak punya jawabannya sendiri.

"Bapak ga jualan ya?"
"Ga nih", jawab Bapak.
"Loh kenapa Pak?' Aku begitu terkejut mengingat seberapa banyak fans masakan Bapak dan Ibu yang akan kecewa ketika mendatangi Artomoro dan mendapati warung itu tutup. Aku pernah cerita kan kalau datang ke sana bisa ngantri sampai sejam-an? Itu saking ramenya.

Awalnya Bapak hanya terdiam. Pertanyaan tadi ku sambung lagi "Mau liburan dulu ya Pak?" Tebakku, tapi ini bukan tebak-tebak berhadiah hehe. Tak dinyana Bapak mengiyakan. Beliau berkata mau libur dulu seminggu karena anak pertama beliau (yg anak STAN-bisa baca di tulisan saya sebelumnya) akan menikah dalam waktu dekat ini.

"Nikahnya di Jakarta neng, di Mesjid Al-Azhar. Umurnya 26, udah seharusnya nikah". Mendengar itu aku tambah takjub. Dizaman banyak lelaki yang menunda-nunda pernikahan karena belum:
1. Sukses
2. Belum punya rumah
3. Belum punya kendaraan
4. Belum punya a, b, c, d, e, dst.
5. Belum bisa bahagiakan ortu
tersirat dari perkataan Bapak kalau meskipun anakku belum punya kelima poin itu ya ga apa-apa, kalau sudah waktunya nikah ya silahkan. Ini pendapat pribadiku loh, silahkan perkataan Bapak kalian tafsirkan sendiri. Yang jelas, kalau takaran membahagiakan ortu adalah ortu hanya ongkang-angking kaki sementara duit mengalir, ga perlu kerja, menikmati masa tua dengan liburan keliling dunia, hal itu belum ku lihat pada Bapak dan Ibu. Sampai bulan Oktober kemarin, masih terlihat Bapak dan Ibu yang berjualan hingga tengah malam.

"Wah selamat ya Pak" ucapku tulus. Entah kenapa aku merasakan kebahagiaan lewat senyuman Bapak. "Sama-sama neng". "Iya Pak semoga lancar yaaa". "Iya neng Amin". Kami tutup obrolan singkat malam itu tanpa sepatah kata lagi hingga akhirnya akupun sampai di depan kosan. 

   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar